Melawan Ketergantungan Energi Fosil

Judul tersebut merupakan judul OBRASS (Obrolan Sabtu Sore) yang diadakan tanggal 05 Februari 2011 dari jam 15.30 sampai 18.00 di DPKLTS Jl. Riau 189A Bandung.

Hadir sebagai pembicara adalah Rizki Aghistna (YPBB) sebagai pendamping di desa Pasir Angling, Lembang, dalam pengembangan biogas. Pendampingan tersebut dilakukan dalam rangka memberdayakan masyarakat dalam memanfaatkan siklus alam untuk pemenuhan kebutuhan energinya. atau, dalam bahasa keren sekarang, disebut: masyarakat yang mandiri energi. dengan sentuhan YPBB, energi mandiri ini dikemas dengan memanfaatkan siklus-siklus alami, dan kita menyebutnya masyarakat organis. Dalam soal biogas, siklus alam yang dimanfaatkan adalah pembusukan kotoran sapi. kotoran sapi yang sudah ‘diperas’ gasnya ini terbukti jadi pupuk daun yang baik. “lebih bagus daripada urea”

Biogas dihasilkan dengan mencampur limbah yang sebagian besar terdiri atas kotoran ternak dengan potongan-potongan kecil sisa-sisa tanaman, seperti jerami dan sebagainya, dengan air yang cukup banyak.

Untuk pertama kali pengolahan dibutuhkan waktu lebih kurang dua minggu sampai satu bulan sebelum dihasilkan gas awal. Campuran tersebut selalu ditambah setiap hari dan sesekali diaduk, sedangkan yang sudah diolah dikeluarkan melalui saluran pengeluaran. Sisa dari limbah yang telah dicerna oleh bakteri methan atau bakteri biogas, yang disebut slurry atau lumpur, mempunyai kandungan hara yang sama dengan pupuk organik yang telah matang sebagaimana halnya kompos sehingga dapat langsung digunakan untuk memupuk tanaman, atau jika akan disimpan atau diperjualbelikan dapat dikeringkan di bawah sinar matahari sebelum dimasukkan ke dalam karung.

Untuk permulaan diperlukan biaya untuk membangun pembangkit (digester) biogas yang relatif besar bagi penduduk pedesaan. Namun sekali berdiri, alat tersebut dapat dipergunakan dan menghasilkan biogas selama bertahun-tahun. Untuk ukuran 8 meter kubik tipe kubah alat ini, cocok bagi petani yang memiliki 3 ekor sapi atau 8 ekor kambing atau 100 ekor ayam di samping juga mempunyai sumber air yang cukup dan limbah tanaman sebagai pelengkap biomassa. Setiap unit yang diisi sebanyak 80 kilogram kotoran sapi yang dicampur 80 liter air dan potongan limbah lainnya dapat menghasilkan 1 meter kubik biogas yang dapat dipergunakan untuk memasak dan penerangan. Biogas cocok dikembangkan di daerah-daerah yang memiliki biomassa berlimpah, terutama di sentra-sentra produksi padi dan ternak.

Pembangkit biogas juga cocok dibangun untuk peternakan sapi perah atau peternakan ayam dengan mendesain pengaliran tinja ternak ke dalam digester. Kompleks perumahan juga dapat dirancang untuk menyalurkan tinja ke tempat pengolahan biogas bersama. Negara-negara maju banyak yang menerapkan sistem ini sebagai bagian usaha untuk daur ulang dan mengurangi polusi dan biaya pengelolaan limbah. Jadi dapat disimpulkan bahwa biogas mempunyai berbagai manfaat, yaitu menghasilkan gas, ikut menjaga kelestarian lingkungan, mengurangi polusi dan meningkatkan kebersihan dan kesehatan, serta penghasil pupuk organik yang bermutu.(iH3)

No comments yet.

Leave a Reply