Setahun 23.124 Ha Hutan Aceh Gundul

Banjir bandang yang melanda Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Kamis (10/3) malam telah memporak-porandakan kawasan pemukiman daerah itu. Puluhan korban tewas serta sejumlah fasilitas umum seperti infrastruktur, jalan dan jembatan rusak.

Peristiwa itu diduga akibat illegal loging. Kondisi membuat masyarakat mempertanyakan kembali kebijakan Gubernur Aceh tentang Aceh Green Province.

Direktur Eksekutif Walhi Aceh, TM Zulfikar, mengatakan hasil penyelidikan yang dilakukan, banyak aktivitas penebangan hutan dan penambangan sumber daya alam terjadi di kawasan itu.

Hal ini terbukti dengan ditemukannya ribuan kayu gelondongan dan olahan yang ikut terbawa banjir dalam peristiwa itu. “Peristiwa ini menjadi bukti, kalau kebijakan Aceh Green Province hanya slogan,” kata TM Zulfikar, tadi sore.

Zulfikar menjelaskan, sejak diberlakukannya kebijakan program Aceh Green Province, dimana salah satu kebijakannya memuat penghentian sementara, penebangan hutan (moratorium logging) di Provinsi Aceh.

Namun, kata Zulfikar, laju kerusakan hutan di Aceh justru tidak berkurang. “Bahkan dalam catatan kami, laju kerusakan hutan di Aceh pertahunnya mencapai 23.124 ribu hektar,” tegas Zulfikar.

Menurutnya, instruksi Gubenur Nomor 05/INSTR.2007 tentang moratorium logging hanya merupakan kamuflase, tanpa implementasi yang konkrit. “Buktinya kita bisa lihat sendiri, bahwa, banjir bandang Tangse disebabkan faktor maraknya pembalakan liar di kawasan tersebut,” tambahnya.

Dari peristiwa ini, tambah Zulfikar, dapat ditarik pembelajaran bahwa penegakan hukum sangat lemah untuk menjerat para pelaku pembalakan hutan liar di Aceh. “Peristiwa ini juga menjelaskan bahwa para cukong kayu masih bergentayangan di hutan-hutan Aceh,” tegas Zulfikar. (Waspada Online/iH2).

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply