Bijak Pada Bumi Tempat Kita Berpijak

Menuju Gerakan Keadilan Ekologis

Hubungan timbal balik diantara perilaku dengan kondisi lingkungan terjalin mengikuti alur irama alam. Satu sisi lingkungan   tercipta sebagai  produk dari perilaku. Dan pada sisi lain perilaku dibentuk juga oleh kondisi lingkungan (habitat). Hubungan timbal balik ini merupakan cerminan dari keinginan, tujuan, nilai dan makna yang  dimiliki suatu habitat, sebagai cica-cita menuju  kesinambungan hidup diantara keduanya.

Kondisi tersebut tergambar dalam  filosofi, gerakan lingkungan yang memiliki filosofi tersendiri, sebagai dasar bagi gerakan lingkungan. Hening Parlan menyatakan bahwa ada tiga teori yang mendasari gerakan lingkungan.  Pertama, manusia sebagai pusat. Kedua, alam raya sebagai pusat, sering juga disebut Keadilan Ekologi. Ketiga, hubungan mutualisme antara manusia dengan alam atau biasa disebut pararelisme. Dalam  proses selanjutnya ketiga filosofi tersebut berkembang menjadi episterm dari gerakan lingkungan.

Pemahamaan bijak pada bumi tempat kita berpijak menjadi sepirit bersama dalam suatu  komunal global yang konsen pada lingkungan. Sehingga harapan hubungan mutualisme antara manusia dengan alam bisa melahirkan suatu kesinambungan hidup yang manusiawi dan alami.  Bijak pada bumi berarti siap untuk dipimpin dan memimpin. Namun tidak dimaknai sebagai konfrontasi antara orang jahat yang ingin menghancurkan lingkungan dan orang baik berusaha mempertahankanya. Karena potensi menjadi orang jahat maupun orang baik terdapat dalam diri kita.

Secara ringkas perilaku merupakan  suatu kebiasaan yang memiliki kecenderungan berubah.  Apa bila tidak dikawal, perilaku bisa berakhir pada suatu kebiasaan semu, terjebak pada arus yang selalu harus direspon  baik arus wacana maupun arus wahana  yang tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai yang diyakini.  Menjadi bijak dengan mengubah perilaku perlu kerja keras dan pengorbanan. Apabila wacana yang diolah  tidak berkesesuaian dengan realita, maka bijak dalam berperilaku menjadi sesuatu yang absurd dan rapuh, lambat laun kembali hanyut tergilas realitas, nyangkut dan tersandera dalam kebiasaan-kebiasaan asali  manusia.  Kembali menjadi mahluk yang memiliki hasrat mendasar dalam  menggapai kekuasaan dan kesuksesan. Pada ungkapan lain menyatakan bahwa, untuk menjadi dirinya tidak memerlukan apapun selain dirinya sendiri, namun itu berlaku untuk mereka yang benar-benar memahami dirinya.

Spirit Gerakan Lingkungan

Gerakan lingkungan sedunia dibangun sejak abad 19. Pada saat itu   kata ekologi diperkenalkan oleh  orang jerman, mengambil sebuah kata yang berasal dari kata eikos, yang berarti rumah atau habitat. Dalam perjalanan selanjutnya habitat dengan  sumber kehidupanya, (SDA yang ada) sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap mahkluk yang ada di dunia. Namun menjadi sebuah persoalan manakala   sumber kehidupan tersebut dibajak segelintir manusia serakah, untuk memenuhi hasrat hidup hedonis tanpa peduli dengan  nilai-nilai kehidupan yang lainya.

Gerakan lingkungan merupakan bagian dari gerakan sosial yang berada dalam pusaran  global, untuk menciptakan kehidupan yang aman, lebih ramah pada lingkungan, dengan tatanan dunia yang lebih adil dan pola hidup yang memiliki nilai-nilai alam yang manusiawi dan manusia yang alami.

Cara pandang yang menempatkan alam hanya sekedar sumber daya untuk dikonsumsi telah menciptakan situasi direndahkannya  manusia dan alam oleh  mesin, dan direndahkannya keprihatinan manusia akan masalah-masalah sosial, moral, religi, dan ekologi demi masalah-masalah ekonomi. Hukum  ekologi adalah segala sesuatu saling berhubungan, segala sesuatu memiliki tujuan.  Kelangsungan hidup manusia tergantung pada kelangsungan ekosistem. Jaringan kompleks yang menghubungkan hewan, tumbuhan, dan bentuk kehidupan lainya pada lingkungan sangat ditentukan oleh ekosistem. Segala sesuatu saling bergantung dalam ekosistem, jika anda mengubah salah satu bagian maka anda juga mengubah yang lainya, cepat atau lambat.

Memahami cara kerja alam sangatlah penting, untuk menggugah gerakan lingkungan.  Sehingga kesadaran  bahwa kita adalah bagian dari alam terpahami dan tidak terdikotomi oleh pemahaman bahwa kita berada diatas alam. Tak ada yang bisa memprediksi dengan akurat seperti apa bumi kita nanti. Iklim bisa jadi sangat berubah, bahkan diluar dugaan kita.  Dan hidup bukan hanya sekedar pembangunan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi juga hidup harus diapresiasi dengan keharmonisan, kesehatan, keindahan dan keadilan. Dimanapun kita  tinggal, kita harus memutuskan standar hidup yang “wajar” dan bergerak menuju pertumbuhan  yang berkesinambungan.

Gerakan lingkungan dewasa ini kebanyakan berskala besar,  global dan menarik perhatian internasional. Namun kerapkali gerakan lingkungan belum menjadi penentu utama dalam arus kebijakan pembangunan. Syarat memperhatikan aspek lingkungan dalam suatu pembangunan hanya sekedar pemanis dan tidak menjadi penentu, apakah pembangunan itu dilaksanakan atau tidak atas pertimbangan lingkungan  Untuk itu apa yang kita lakukan secara pribadi di rumah, di kampus atau di ruang-ruang public lainya menjadi  harapan menentukan dalam gerakan lingkungan, yang benar-benar menentukan dikemudian hari.

Memang  menjalani pola hidup yang sesuai dengan siklus ekologis, membutuhkan keberanian dan cukup memakan waktu. Tapi tak perlu tergesa-gesa, lakukan apa yang bisa di lakukan. Mengubah gaya hidup merupakan bagian dari solusi. Menciptakan gerakan lingkungan  adalah solusi lainya. Tak ada alasan untuk pesimis, tapi tak ada alasan juga untuk optimis, dan selalu ada jalan untuk bertindak sekarang juga. Seperti: Hindari penggunaan bungkus yang berlebihan, pilih peralatan yang hemat energi, pergunakan barang yang bisa didaur ulang, tanam dan rawatlah pohon walaupun hanya satu. Jangan menunggu ekosistem  melakukan penyesuaian terhadap kondisi alam yang baru, tapi mulailah kehidupan baru. Kita harus menyiapkan generasi mendatang untuk hidup di dunia yang telah berubah, atau menjadikan kita sebagai generasi terakhir di kestabilan bumi. Wallahu Alam. (Adang Kusnadi-iH3)

 

About Adang Kusnadi

Sarjana Ekonomi Lululusan Universitas Islam Bandung. Memiliki minat pada masalah -masalah yang berkaitan dengan perbaikan tempat hidup manusia dengan visi personal ingin “mewujudkan alam yang manusiawi dan manusia yang alami.” Adang juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan Cimahi.
No comments yet.

Leave a Reply