Sesar Lembang Patahan Yang Mengancam Bandung

By Adang Kusnadi – Sat Mar 26, 8:17 pm

Apa dan Dimana Sesar Lembang?

Mungkin istilah “sesar” terasa asing ditelinga kita. Apakah sesar itu? Sesar, yang dalam Bahasa Inggris disebut  “fault” merupakan retakan di kerak bumi yang mengalami penggeseran atau penggerakan. Secara umum dikenal tiga jenis sesar, yaitu sesar normal (normal fault), sesar naik (reverse fault),  dan sesar mendatar (strike-slip fault).

Sebuah retakan memanjang sepanjang lebih dari 22 km yang terletak di utara Kota Bandung dikenal sebagai Sesar Lembang. Dengan melihat morfologi yang terbentuk, jenis sesarnya adalah sesar normal. Bagian utara bergerak relatif turun, sementara bagian selatan terangkat. Kota Lembang hingga Cisarua di barat dan Maribaya hingga Cibodas/Batulonceng di timur merupakan bagian yang mengalami penurunan tersebut. Akibat dari proses tektonik ini terbentang suatu gawir (lereng lurus) yang merupakan bidang gelincir Sesar Lembang yang dapat jelas terlihat dari Lembang ke arah timur. Adapun beberapa bagian yang terangkat adalah Gunung Palasari, Batunyusun, Gunung Batu, dan Gunung Lembang tempat keberadaan Observatorium Bosscha di bagian timur, serta Cihideung, bukit tempat The Peak berada, dan Jambudipa di bagian barat.

Apakah Sesar Lembang Aktif ?

Sejak jaman sejarah hingga sekaramg memang belum ada catatan yang mendeteksi adanya gempa bumi besar yang terjadi di sepanjang Sesar Lembang. Namun demikian dengan menggunakan data empiris, suatu retakan yang telah terbentuk dengan panjang lebih lebih dari 20 km dapat memicu gempa dengan magnitude 6,5 – 7,0 yang merusak. Satu catatan yang mungkin cukup mengkhawatirkan adalah adanya gempa merusak pada tahun 1910 di Padalarang, yang merupakan ujung barat  Sesar Lembang yang bertemu dengan sesar aktif Cimandiri yang berawal dari Palabuhanratu, Sukabumi.

Di dalam geologi, kategori sesar aktif mula-mula merujuk kepada sesar yang terbentuk pada Zaman Kuarter (hingga 2 juta tahun yang lalu). Namun akhir-akhir ini dipersempit hingga kala Holosen (hingga 10.000 tahun yang lalu). Data endapan sagpond yang diteliti oleh Puslit Geoteknologi LIPI ternyata menemukan endapan yang diperkirakan terbentuk akibat aktifitas Sesar Lembang yang berumur kira-kira antara 500 – 1000 tahun yang lalu. Data ini menunjukkan bahwa Sesar Lembang tergolong sesar aktif sekalipun belum ada gempa besar pada umur manusia modern yang melanda kawasan ini.

Gempa bumi sulit diprediksi! Tetapi mitigasi terhadap kawasan-kawasan rawan bencana gempa bumi telah diketahui dengan baik. Ketika kita sulit menentukan kapan datangnya gempa bumi, makan usaha terbaik adalah bagaimana kita mempersiapkan diri jika gempa itu benar-benar datang. Di sepanjang Lembah Cisarua, Lembang, hingga Maribaya, kita akan melihat apakan masyarakat siap baik secara struktural maupun non-struktural jika bencana yang tidak kita harapkan itu benar-benar datang. (iH3. Disarikan dari Kuliah Umum Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB 25/03/2011).

 

About Adang Kusnadi

Sarjana Ekonomi Lululusan Universitas Islam Bandung. Memiliki minat pada masalah -masalah yang berkaitan dengan perbaikan tempat hidup manusia dengan visi personal ingin “mewujudkan alam yang manusiawi dan manusia yang alami.” Adang juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan Cimahi.
No comments yet.

Leave a Reply