Kerusakan Air Terletak Pada Manajemen Pengelolaan SDA

Judul tersebut merupakan kesimpulan dari seminar sehari Word Water Day 2011 yang bertema “Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu dan Berkelanjutan dalam Rangka Adaptasi Perubahan Sistem Iklim Global” yang diselenggarakan oleh Kelompok Keahlian Teknologi Pengelolaan Lingkungan PTSL ITB dan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB, di Aula Barat ITB 25/03/2011.

Perubahan iklim dunia sudah sangat mengkhawatirkan seluruh umat manusia di bumi ini. Pemanasan global juga berdampak pada tidak menentunya cuaca di Indonesia. Ancaman pemanasan global akhirnya menggugah masyarakat dunia. Pemerintah negara-negara di dunia menggelar berbagai konferensi international untuk bersama-sama mencari solusi-solusi terkait pengendalian dampak perubahan iklim. Salah satu moment international terkait iklim dunia adalah Word Water Day.

Pengelolaan air menjadi sangat penting terkait perubahan iklim yang terjadi. Pengelolaan air harus didasari oleh konsep keterpaduan berdasarkan prinsip konservasi, tidak disekat-sekat otoritas birokrasi ataupun batas wilayah administrasi. Karena itu, pengelolaan pengelolaan sumber daya air terpadu dan berkelanjutan harus terintegrasi antara daerah resapan air, daerah aliran, serta daerah pelepasan air bawah tanah.

Beberapa kebijakan terkait pengelolaan air telah mengakomodasi upaya mitigasi perubahan iklim, seperti ketentuan tentang air resapan, air bawah tanah juga tata ruang terkait pelepasan aliran air, seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH), hutan, dan fasilitas lainnya. Penataan ruang seharusnya menjadi acuan utama dalam pengendalian segala kegiatan yang memanfaatkan ruang, agar dampak negatif yang ditimbulkan akibat eksploitasi pemanfaatan ruang yang berlebihan dapat diantisipasi.

Tata ruang air adalah bagaimana menata ruang daratan dengan memberikan tempat yang semestinya bagi air untuk dapat masuk secara maksimal ke dalam tanah melalui proses infiltration. Dengan demikian kapasitas run off air menjadi minimal. Untuk mencapai hal ini maka bidang resapan air baik di hulu dan hilir harus memadai. Bidang resapan air di bagian hulu yang paling baik adalah apabila fungsi kawasan hutan dapat maksimal. Artinya, luas kawasan hutan yang ada harus dapat menampung sebesar-besarnya jumlah hujan yang turun. Sedangkan di bagian hilir, cara yang banyak dilakukan adalah dengan memaksimalkan luas dan fungsi hutan kota, ruang terbuka hijau serta bidang resapan lainnya.

Hal lain yang mendasar harus dipertimbangkan dalam tata ruang air adalah dengan memahami bahwa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah dan air membutuhkan jalan (saluran) baik sistem alami (sungai, anak sungai) maupun saluran buatan (saluran drainase). Saluran-saluran tersebut harus dapat dilalui air dengan kapasitas maksimal sepanjang tahun.

Kontribusi curah hujan yang tinggi di musim penghujan dan tingginya perubahan tataguna lahan termasuk di wilayah hulu sungai merupakan penyebab utama terjadinya banjir. Hal ini, tidak hanya berpengaruh pada saat debit tinggi atau kondisi banjir, tetapi memberikan kontribusi yang cukup signifikan pada saat debit rendah atau bahkan kekeringan.

Faktor penyebab kekeringan sama persis seperti faktor penyebab banjir, keduanya berperilaku linier dependent, yakni semua faktor yang menyebabkan kekeringan akan bergulir mendorong terjadinya banjir. Semakin parah kekeringan yang terjadi, semakin besar pula banjir yang akan menyusul dan sebaliknya. Adanya perubahan kawasan hutan yang sebelumnya merupakan daerah resapan air menjadi lahan pertanian, permukiman, industri dan pertambangan bahkan menjadi hutan yang gundul membuat air hujan yang jatuh langsung melimpas ke sungai, bukan masuk ke dalam tanah. Berkurangnya daerah resapan air, mengakibatkan saat musim kemarau aliran air ke dalam tanah menjadi berkurang.

Alam memiliki kapasitas daya dukung tertentu. Situ-situ di kawasan perkotaan yang secara alami terbentuk sebagai tempat parkir air di kala musim hujan tiba,  dijadikan sebagai daratan yang bisa menampung aktifitas perekonomian dengan memanfaatkan teknologi. Sungai-sungai dialihkan alirannya dan bahkan banyak yang ditutup untuk dibangun kawasan industri. Beberapa atau bahkan sebagian besar fungsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai daerah resapan air dirasakan tidak memberikan keuntungan secara ekonomi. Hal itu diperburuk dengan “semangat” pemerintah daerah dalam mengejar pendapatan daerah. Maka yang terjadi adalah perubahan fungsi besar-besaran terhadap fungsi-fungsi resapan yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan alam menjadi fungsi-fungsi industri penopang pertumbuhan ekonomi yang tidak ramah lingkungan.

Saat ini tindakan yang perlu segera dilakukan adalah mengembalikan fungsi kawasan-kawasan ke fungsi awalnya yang lebih ramah lingkungan berdasar atas UU Penataan Ruang. Memang bukan perkara sederhana untuk mengubah kembali fungsi kawasan industri  yang sudah terbentuk untuk dikembalikan menjadi fungsi-fungsi yang ramah lingkungan yang notabene akan mengorbankan kepentingan ekonomi. Namun apalah artinya kesejahteraan ekonomi yang tinggi jika sewaktu-waktu bisa musnah dalam sekejap akibat bencana banjir, belum lagi perasaan was-was setiap kali musim hujan datang akan diikuti oleh banjir yang melanda.

Pengembangan tata ruang di daratan sangatlah berdampak terhadap siklus air yang merupakan penentu keseimbangan air di bumi ini, yaitu antara air hujan, air permukaan dan air tanah. Kita harus bisa menciptakan keseimbangan dalam arti bahwa air berjumlah cukup di musim kemarau dengan kualitas yang baik dan tidak menimbulkan banjir di musim hujan, sehingga dapat memberikan manfaat dan menjamin kelangsungan hidup manusia. (iH3).

No comments yet.

Leave a Reply