Masa Depan Mobil Listrik Tidak Jelas [BBC Indonesia]

BBC Indonesia mengabarkan. Banyak yang mengatakan pada masa 1980an, bahwa mobil listrik kelak akan populer namun ternyata tak terbukti hingga akhir abad 20.

Namun memasuki di awal abad 21, ketika dunia dilanda kekhawatiran akan pemanasan global, dunia tidak melihatnya lagi sebagai sebuah harapan tetapi keharusan. Persoalan utama dengan mobil listrik adalah baterainya besar, memakan tempat, dan kemampuannya terbatas. Rekor masa pakai baterai penuh selama ini diperkirakan hanya sekitar 160 kilometer. Kekurangan lain adalah disain dan konstruksinya biasanya jauh dari menarik.

Namun sebuah perusahaan mobil Amerika Serikat memproduksi sebuah mobil mewah yang ramah lingkungan: mobil sport listrik yang diberi nama Tesla Roadster Sports Signature Two Fifty. Mobil ini sama sekali tak bisa dibedakan dengan mobil sport pada umumnya. Kecepatannya bisa mencapai 180 kilometer per jam.

Tesla memang tidak murah. Harganya sekitar US$ 150.000, tetapi bukan harganya yang penting, kata pengamat lingkungan di Amerika Chris Goodall. Keberadaan mobil Tesla ini menurutnya adalah menunjukkan pada konsumen dan pabrik mobil lain mengenai terbukanya berbagai kemungkinan membuat mobil yang hebat tetapi ramah lingkungan.

Mobil ini bagi saya lebih untuk membuka mata bahwa dengan mobil listrik bukan lantas kreativitas terbatasi. Malah sebaliknya,” kata Chris Goodall.

Dan berbagai perusahaan mobil dunia mulai benar-benar serius untuk mengeluarkan mobil listrik versi mereka. Di pameran industri mobil Frankfurt Motor Show September lalu perusahaan besar memamerkan produk mobil listrik mereka. “Mereka tahu siapapun yang pertama kali masuk pasar dengan mobil listrik menarik, laik jalan, dan murah akan secara otomatis menguasai pasar,” demikian pengamatan seorang wartawan otomotif terkenal Quentin Wilson. Ia juga menekankan bahwa mobil listrik adalah solusi terbaik untuk menghemat ongkos maupun mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Namun sementara mobil listrik mulai benar-benar dilirik, di Indonesia kemunculan mobil semacam ini masih jauh dari harapan. Direktur pemasaran Honda di Indonesia Jonfis Fandy mengeluhkan bahwa sekadar menjual mobil hibrid saja masih kesulitan.

Pasar tradisional mobil di Indonesia masih belum teryakinkan akan teknologi yang memadukan energi bahan bakar fosil dan listrik apalagi sekedar mobil yang digerakkan oleh listrik. “Yang lebih menyulitkan lagi mobil ramah lingkungan di Indonesia masih dilihat sebagai barang mewah sehingga pajaknya bukannya lebih rendah tetapi malah lebih tinggi,” keluhnya lagi.

Ramah Lingkungan?

Sebenarnya mobil listrik bukannya tanpa masalah. Walau Tesla sudah memunculkan mobil yang layak disejajarkan dengan mobil konvensional, persoalan baterai belumlah terselesaikan. Teknologi bateri terbaru, Lithium Ion, yang digunakan Tesla lumayan menjanjikan. Disamping ukurannya yang lebih kecil, daya tahannya juga cukup lama karena bisa mencapai dua kali lipat tenaga baterai yang selama ini dipakai untuk mobil listrik.

Tetapi Brett Smith dari Pusat Penelitian Otomotif negara bagian Michigan, Amerika Serikat, tidak terlalu yakin. “Lithium Ion masih belum sempurna. Ini baru generasi pertama,'” katanya. “Kalau kita sampai pada generasi ketiga Lithium Ion, mungkin sepuluh tahun kedepan barulah kita berbicara sesuatu yang benar-benar praktis dipakai.”

Kredensi ramah lingkungan mobil listrik dipertanyakan oleh Totok Mohamad Sabar Soegandi, Kepala Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI. “Mobilnya ramah lingkungan. Tetapi bagaimana dengan pembangkit listriknya sendiri? Bukankah kebanyakan pembangkit listrik masih menggunakan energi fosil? Semakin populer mobil listrik meningkat pula permintaan akan listrik. Akibatnya secara otomatis akan meningkatkan emisi karbon yang ada.”

Itulah sebabnya Brett Smith tidak melihat mobil listrik sebagai sebuah jalan keluar transportasi ramah lingkungan satu-satunya. Ia mengingatkan bahwa sepuluh tahun lalu mobil hydrogen sepertinya akan lebih popular. “Persoalan yang dihadapi perusahaan pembuat mobil adalah begitu banyak penelitian yang sedang berjalan dan begitu banyak kemungkinan terbuka. Mereka harus berjudi menanamkan uang mereka ke teknologi yang akan popular di masa depan agar tak mengalami kerugian.” ujarnya.

Persoalannya adalah menentukan tekhnologi mana yang tepat untuk masa depan. Itu mungkin yang sulit, namun yang pasti adalah akan selalu ada pertimbangan lingkungan disitu. (iH2/BBCIndonesia).

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply