Pro Green Melalui Green Marketing

Green marketing sebagai salah satu istilah dalam ilmu pemasaran sebenarnya telah lama muncul yaitu sekitar tahun 80-an akhir. Lompatan baru dunia marketing/pemasaran dikejutkan dengan buku John Grant yang berjudul “The Green Marketing Manifesto” membuat kepekaan dunia usaha makin tinggi terhadap lingkungan hidup. Pada saat-saat itulah berbagai merek mendapatkan milestone-nya seperti The Body Shop (TBS), Ecover, Naturals Range dan Down to Earth. Istilah Green Marketing juga mempunyai kesamaan dengan istilah Environmental Marketing and Ecological Marketing.

Pemasaran Hijau (Green Marketing) telah mulai banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia. Baik Green Marketing yang mengedepankan Green-Input, Green-Process, maupun Green-Output serta segala hal yang berhubungan dengan penyelamatan lingkungan hidup yang dilakukan oleh perusahaan. Seperti yang diketahui, Proses produksi (barang-atau jasa) yang kemudian dijual kepada konsumen mempunyai 3 tahap secara garis besar: input – process – output. Marketing berusaha menjual produk perusahaan dengan berbagai strategi untuk mencapai tujuan perusahaan.

Green marketing sebagai konsep strategi pemasaran produk oleh produsen bagi kebutuhan konsumen yang peduli lingkungan hidup. Dapat juga berarti konsep strategi pemasaran produk produsen yang peduli lingkungan hidup bagi konsumen. Hal ini juga bisa digabungkan antara keduanya, produsen yang peduli lingkungan hidup memasarkan produknya kepada konsumen yang peduli lingkungan hidup. Apapun itu, pada dasarnya kedua belah pihak diuntungkan dengan nilai tambah bahwa orang-orang disekitarnya pun mendapatkan keuntungan atas keadaan lingkungan yang makin membaik.

Gerakan Green Marketing, Green Consumer, Environmental Marketing and Ecological Marketing atau apapun istilahnya semoga dapat lebih menyelamatkan lingkungan hidup, dan sebagai pertanggungjawaban perusahaan terhadap kerusakan lingkungan (environment burden) secara langsung maupun tidak langsung.

Riset menunjukan bahwa produk-produk ramah lingkungan (Green Products) banyak mengalami kegagalan karena terjebak pada pemenuhan tujuan meningkatkan kualitas lingkungan tanpa memberi nilai yang bisa diterima dan berguna bagi konsumen yang membelinya.

Green Product (produk yang berwawasan lingkungan) adalah merupakan suatu produk yang dirancang dan diproses dengan suatu cara untuk mengurangi efek-efek yang dapat mencemari lingkungan, baik dalam produksi, pendistribusian dan pengkonsumsiannya. Hal ini dapat dikaitkan dengan pemakaian bahan baku yang dapat didaur ulang. Seperti yang telah dilakukan oleh binaan PT. Unilever yang telah tergabung dalam komunitas Trashion. Di sini ibu-ibu diberi kesempatan berkreasi membuat berbagai barang seperti paying, tas, dll berbahan bekas kemasan detergen Sunlight. Bukan kain atau kulit. Tujuan program ini jelas untuk mengajak masyarakat ramah lingkungan dengan menghindari membuang sampah kemasan dengan seenaknya.

Namun yang menjadi pertanyaan besar apa hubungan antara program ramah lingkungan ini dan marketing? Tanpa mengabaikan yang lain program ramah lingkungan ini sesungguhnya digunakan atau dimanfaatkan untuk membentuk dan membangun citra “kepedulian”.

Tidak hanya itu, isu lingkungan bahkan dapat dijadikan basis positioning yang kuat. Terutama apabila isu lingkungan ini benar-benar telah menjadi needs konsumen di masa akan datang.

Pemerintah perlu membuat regulasi tentang aplikasi Green Marketing ini, khususnya diperuntukkan kepada perusahan yang memproduksi barang (produsen) harus melakukan hal ini, sebut misalnya, menarik kembali kemasannya dengan memberi nilai (harga) per satuan kemasan, artinya ada nilai tambah dari kemasan itu, seperti kemasan pasta gigi, kemasan makanan instan, kemasan rokok, dll. Semua ini merupakan sebuah upaya (solusi) kegiatan ramah lingkungan, jelaslah akan mengurangi atau meminimalisir sampah. (iH2).

Sumber Tulisan: H. Asrul Hoesein, Pendiri Gerakan Indonesia Hijau/www.AsrulHoeseinBrother.blogspot.com)

 

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.

One Response to Pro Green Melalui Green Marketing

  1. adhelappleel October 8, 2013 at 1:51 pm #

    terimakasih atas tulisannya, saya lagi membutuhkan buku mengenai green marketing tetapi yang bahasa indonesia. untuk penelitian saya. apa bisa kasih tahu buku apa saja untuk referensi saya? terimakasih.

Leave a Reply