Daur Ulang Sampah Makanan dengan Lalat Hitam

A New Jersey start-up telah menemukan metode untuk daur ulang sampah makanan menjadi stok minyak dan protein dengan memanfaatkan nafsu rakus dari seekor lalat unik yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk makan.

Pada tahap awal penelitian Teknologi Limbah Hijau (Green Waste Technologies) menemukan bagaimana “prajurit” larva lalat hitam dikerahkan untuk mengurai sampah makanan menjadi substitusi yang berkelanjutan untuk minyak, tepung ikan, dan komoditas farmasi.

Lalat hitam ini hidup hanya untuk berkembang biak dan makan demi mengumpulkan energi untuk persiapan hidup mereka yang berumur pendek. Dimana pasangan yang sudah dewasa bertelur dan kemudian mati. Lalat hitam ini mengeluarkan feromon untuk menjaga agar spesies lain tidak mengambil makanan mereka. Teknologi Limbah Hijau kemudian menyediakan teknologi khusus untuk mengelola siklus pemeliharaannya. Teknologi awal ini disebut OVRSol, yang difokuskan pada penyediaan lalat.

Gaya hidup lalat hitam yang rakus, telah menghasilkan larva yang mengandung minyak antara 30-35 persen dan lemak serta protein 43 persen, kata Olive Lynch, Pendiri Green Waste Technologies. Properti ini membuatnya cocok untuk daur ulang limbah minyak dari makanan.

Menurut Lynch, tingkat konversi lalat hitam untuk minyak mencapai 95 persen dari berat yang dikonsumsi larva lainnya. Setiap hari, New York City membuang 10.000 kg limbah makanan, sehingga dapat dibayangkan, dari volume itu lalat hitam di sana dapat menghasilkan sampai 9500 kg minyak.

Persediaan Makanan Berkelanjutan

Energi bukan satu-satunya aplikasi: exoskeleton hama/larva juga mengandung zat yang disebut kitin, yang banyak digunakan di bidang pertanian dan industri farmasi. Sumber Kitin biasanya dihasilkan dari laut.

Lebih lanjut Lynch menjelaskan bahwa larva juga mungkin mengering/mati dan dapat diolah menjadi makanan protein alternatif yang berkelanjutan untuk budidaya ikan dan membuat bahan baku makanan ayam dan babi. Manfaat tambahan lainnya adalah bahwa hal itu tidak memberikan pengaruh pada persediaan makanan manusia.

Konsep ini mungkin kelihatan seperti cerita novel di Amerika Serikat. Tetapi “prajurit” lalat hitam memang sudah digunakan untuk mendaur ulang kernel kelapa sawit menjadi aqua feed di Indonesia dalam membantu untuk mengatasi kekurangan.

Green Waste Technologies berencana mengembangbiakan lalat hitam, karena selama ini telah terbukti bahwa proses itu menjadi skala keberhasilan dalam variabel komersial. Sustainable Business Incubator, sebuah perusahaan di New Jersey, USA, mengkhususkan diri dalam membantu perencaaan awal Teknologi Hijau tersebut, dan New Jersey Department of Environmental Protection sebagai penasihatnya. Rencana bisnis perusahaan telah dipertimbangkan dengan matang dan kemungkinan besar akan bermitra dengan masyarakat setempat. Sehingga akhirnya menciptakan penghasilan bagi para pengangkut limbah/sampah yang bekerjasama dengan pasar tertentu untuk menerima produk yang dihasilkan dengan nilai sangat tinggi.

Menurut Lynch, ini adalah proses berteknologi rendah yang tidak memerlukan fasilitas state-of-the-art, dimana masyarakat dapat menggunakan pabrik/tempat kosong dengan tenaga kerja manual, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja entry-level. (iH2).

Sumber: Diterjemahkan oleh Arief Rustandy dari http://www.smartplanet.com/business/blog/intelligent-energy/how-flies-will-recycle-your-food-waste Posted By David Worthington

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply