4 Cara Membangun Strategi Hijau dalam Perusahaan

Tulisan ini adalah hasil wawancara SmartPlanet.com dengan Dr. Eric G. Olson, seorang pemegang gelar PhD dari Cornell University dan MBA dari MIT-Sloan. Dr. Olson juga adalah seorang insinyur profesional berlisensi dan memiliki pengalaman kerja selama 20 tahun dalam dunia bisnis bersama jaringannya. Dalam buku barunya, Better Green Business: Handbook for Environmentally Responsible and Profitable Business Practices, Dr. Olson menjabarkan praktik-praktik terbaik dan memberikan banyak contoh dalam kehidupan nyata.

SmartPlanet.com: Dr. Olson, Apa pertimbangan utama Anda sehingga kita perlu membangun strategi hijau (dalam perusahaan)?

Dr. Olson: Salah satu pertimbangan penting dalam membangun strategi hijau dalam perusahaan adalah menciptakan budaya dan membangun kesadaran agar mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab terhadap lingkungan. Salah satu perusahaan, misalnya, baru-baru ini mengidentifikasi kebutuhan untuk mengembangkan pelatihan karyawan yang akan membantu orang memahami hubungan antara peran profesional mereka dan tujuan strategis untuk meningkatkan kelestarian lingkungan. Pelatihan seperti ini diharapkan dapat membantu program daur ulang secara sederhana di tempat kerja, sehingga memiliki kesadaran pentingnya mengurangi segala macam sampah di setiap area bisnis.

Tentu saja, pelatihan hanya satu elemen yang mungkin dapat mendukung transformasi budaya tersebut. Lebih penting lagi adalah memiliki perangkat pendukung, seperti tenaga kerja yang memiliki kompetensi, membuat pengukuran dan pelaporan keberhasilan kinerja, dan pimpinan yang menjadi contoh serta memiliki tanggung jawab dalam kelestarian lingkungan. Pada akhirnya, mengelola perubahan budaya dan risiko yang menyertainya harus menjadi pertimbangan utama.

Pertimbangan kedua adalah mengembangkan strategi hijau yang mampu melengkapi dan memperkuat strategi yang telah ada dalam perusahaan. Sebagai contoh, GE Ecomagination dan IBM’s Big Green Innovations, memiliki inisiatif dimana keduanya diluncurkan tidak hanya untuk membantu perusahaan-perusahaan melakukan perbaikan lingkungan, tetapi juga melengkapi strategi bisnis yang ada dengan mengambil keuntungan dari portofolio mapan dan produk yang ada untuk meningkatkan peluang pertumbuhan pendapatan.

Strategi hijau di perusahaan juga dapat melengkapi dan memperkuat strategi yang ada, seperti meningkatkan kinerja usaha sehubungan dengan pertumbuhan pasar, positioning merek, pengembangan produk dan layanan, serta aliansi dan kemitraan. Hal ini juga dapat mendukung strategi operasional, seperti proses penghematan, pasokan lebih hijau dalam rantai siklus kehidupan, dan efisiensi fasilitas. Infrastruktur pendukung juga dapat diperbaiki dengan sistem teknologi dan peralatan yang lebih efisien.

Pertimbangan ketiga dalam strategi hijau perusahaan adalah mampu mendorong keputusan operasional dan inisiatif yang dapat mengurangi dampak lingkungan. Untuk mencapai hal ini, perusahaan atau industri dalam berbagai tingkatan, harus mampu mengembangkan diri dan melakukan pendekatan nyata dengan membuat keputusan agar mampu mencapai manfaat yang lebih nyata. Di Amerika, lembaga-lembaga pemerintah telah mengembangkan metode dan alat untuk mendukung tujuan tersebut, termasuk Kantor Lingkungan Federal Eksekutif (OFEE), Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) dan Federal Highway Administration (FHWA). Metodologi ini juga berlaku untuk industri-industri swasta untuk mendukung kepedulian terhadap lingkungan. Beberapa dari perusahaan-perusahaan termasuk PepsiCo, Burt’s Bees, Ricoh, dan IBM telah melakukannya dengan metodologi Green SigmaTM. Beberapa perusahaan lainnya, seperti Walmart, telah mengadopsi strategi tersebut yang mendorong mereka untuk mencari perbaikan di luar “empat pilar” perusahaan ini. Dengan strategi apapun, yang lebih penting adalah pelaksanaannya harus dikelola dengan roadmap yang jelas dan visi jauh ke depan.

Akhirnya, strategi hijau harus mendukung tindakan yang memiliki proposisi nilai yang menarik. Meskipun sangat sedikit laporan kelangsungan perusahaan (dari sisi lingkungan hidup) yang secara independen diaudit dan diteliti seperti halnya laporan keuangan saat ini, tapi kebanyakan dari mereka menggambarkan berbagai prestasi. Seperti mampu menghilangkan banyak ton emisi gas rumah kaca dari operasi bisnisnya yang menguntungkan, sehingga limbah energi menjadi berkurang.

Tidak mengherankan, proposisi nilai harus mencakup faktor pengelolaan lingkungan dengan memprioritaskan semua inisiatif, termasuk manfaat kualitatif bersama yang terukur. Oleh karena itu, perundang-undangan baru harus diantisipasi, persyaratan kepatuhan harus dipenuhi, dan insentif khusus harus terus ditingkatkan. Dalam beberapa kasus, lebih banyak waktu untuk mencapai titik impas pada beberapa investasi, namun diferensiasi merek tidak boleh diabaikan. (iH2).

Sumber: Diterjemahkan oleh Arief Rustandy dari http://www.smartplanet.com/people/blog/pure-genius/4-keys-to-building-a-green-strategy-for-your-company/1182/?tag=content;col1#comments

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply