Apakah Biofuel Jalan Terbaik Menuju Masa Depan Ekologi?

Selalu ada kontroversi seputar perkembangan teknologi baru dan penemuan-penemuan ilmiah, terutama ketika berdebat apakah biofuel benar-benar adalah cara terbaik untuk masa depan berkaitan dengan perekonomian dan persyaratan ekologi kita. Namun, setelah kita selalu menganggap biofuel sebagai bahan bakar alternatif terbaik pengganti bakar fosil yang telah kita gunakan selama beberapa dekade, kita sekarang diberitahu bahwa mungkin hal ini tidak benar. The Nuffield Council on Bioethics baru-baru ini menghasilkan sebuah laporan yang menyebutkan bahwa Uni Eropa telah menetapkan kalau penggunaan biofuel untuk produksi adalah tidak etis dan tidak aman baik bagi manusia maupun lingkungan.

Jelas, ini sebagai “kejutan” bagi beberapa perusahaan besar yang menginvestasikan waktu dan uang ke dalam kemajuan bidang biofuel. Dalam kondisi panik seperti ini, karena menipisnya bahan bakar fosil dan kekacauan akibat rusaknya atmosfer dan tanah, kita cenderung membela diri terhadap apa pun yang tampaknya bisa menjadi solusi untuk masalah ini.

Sebagai perumpamaan, sebuah obat baru harus melewati tahap tes dan percobaan sebelum digolongkan sebagai obat yang sesuai dan cocok bagi manusia, dan kadang ada kesalahan yang dibuat sehingga obat tersebut tidak bisa digunakan sampai beberapa tahun kemudian. Namun, setidaknya pengujian ekstensif menunjukkan bahwa obat tersebut dibuat agar dapat dikonsumsi seaman mungkin. Pertanyaannya, mengapa kondisi ini tidak berlaku untuk bahan bakar yang kita gunakan sebagai pestisida dan pupuk, untuk kemudian digunakan sebagai biofuel?

Bekerja sebagai badan independen, The Nuffield Council dirancang untuk memeriksa isu-isu etis yang diangkat dalam pengembangan obat dan biologi, termasuk bidang biofuel, dan sekarang mereka berusaha untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh UE meskipun bukan cara terbaik ke depannya. Termasuk dalam laporan yang diterbitkan oleh Dewan Directive Uni Eropa yang meliputi:

  • Bahwa biofuel harus menjaga kelestarian lingkungan;
  • Bahwa mereka harus berkontribusi pada pengurangan gas rumah kaca;
  • Memiliki biaya dan manfaat yang dapat didistribusikan secara adil.

Jika hal ini diatur oleh EU Renewable Directive, yang menyatakan bahwa biofuel harus mencapai target 10% sebagai bahan bakar transportasi pada tahun 2020 di Uni Eropa, maka terdapat keputusan yang jelas-jelas kontras antara apa yang Uni Eropa arahkan dan apa yang sedang Nuffield Council lakukan saat ini. Perlu dicatat bahwa, dari awal EU Renewable Directive adalah lembaga yang penuh perdebatan dan kontroversi. Hanya 3% dari transportasi di Inggris saat ini menggunakan biofuel dan hanya sepertiganya yang benar-benar memenuhi standar lingkungan pada tahun 2009/10.

Ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa biofuel telah memperkenalkan elemen yang tidak diketahui ke dalam siklus makanan. Pertanyaannya, apakah jika biofuel digunakan dalam proses pembuatan pupuk berpengaruh pada poduk akhir? Produk penyubur memang selalu diperdebatkan sejak diolah menjadi kimia.

Fakta bahwa meskipun kita tidak dapat memprediksi apa hasil akhirnya, yang lebih penting adalah orang akan jadi lebih peduli terhadap kesehatan dan planet kita. Meskipun benar bahwa kita perlu bahan bakar untuk menghasilkan makanan yang kita konsumsi – bahkan sayuran organik dan daging memerlukan pengolahan sebelum mereka masuk ke meja toko – beberapa kampanye lingkungan menyerukan penghentian atas ketergantungan yang berkembang pada biofuel.

Mungkin mereka benar, jika Anda tidak yakin pada kenyataan bahwa obat telah mengalami pengujian yang ketat untuk membuatnya seaman mungkin, akankah Anda setuju untuk mengambil atau memberikannya kepada anak-anak Anda? (iH2).

Sumber: Diterjemahkan Arief Rustandy dari http://ecoswitch.com/environmental-news/are-biofuels-really-the-way-to-the-future/

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply