Eksotisme Taman Nasional Meru Betiri

Photo GalleryBy Adang Kusnadi – Fri Mar 18, 5:56 am

Taman Nasional Meru Betiri (foto/dephut.go.id)

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) merupakan kawasan ekosistem hutan tropis di daratan rendah. TNMB terletak di Propinsi Jawa Timur, tepatnya di perbatasan Kab. Jember dan Kab. Banyuwangi. Selain sebagai tempat untuk penelitian aneka flora dan fauna, TNMB juga memiliki potensi wisata alam yang eksotis. Pintu masuk TNMB sebelah barat adalah Pantai Bandealit, di pantai ini perpaduan antara rindangnya hutan dan hamparan pantai dengan gelegar ombak  menebar aura layaknya pantai selatan dengan mitosnya Nyi Roro Kidul.

Pantai Bandealit

Pantai Bandealit bisa ditempuh dengan tiga jam perjalanan angkutan darat dari kota Jember, dan  perjalanan terakhir menuju Bandealit harus ditempuh dengan menggunakan truck perkebunanyang dimulai dari Curah Nongko.

Jalur Curah Nongko – Bandealit merupakan jalur perkebunan coklat dan perkebunan sirsak yang dikelola oleh dinas terkait di TNMB. Perkebunan tersebut dijadikan sebagai Zona Penyangga sebelum memasuki Zona Rimba dan Zona Inti TNMB. Pantai Bandealit memiliki hamparan pasir putih yang mulus menjulur seolah tak pernah terjamah.  Ombaknya juga menggulung-gulung menderu datang dan pergi seperti sedang bermain musik simponi. Yang tak kalah eksotis adalah hembusan angin menerpa rimbun pohon di tepi pantai yang disambut suara  kicau burung sambil menari-nari mencandai angin.

Di pantai Bandealit terdapat menara yang disediakan khusus untuk “waching bird” melihat aneka burung yang terdapat di sana. Burung-burung yang terdapat di Pantai Bandealit merupakan bagian dari ekosistem hutan pantai. Di atas menara walaupun hembusan angin terasa lebih kuat dan kencang, tapi  panorama alam yang tersaji di sana terlihat lebih sempurna dan berwarna. Suasana angin yang mengantar ombak menepi, membuat suatu symponi alam menggelora tak terkira. Kepakan burung seolah membentuk sebuah koor menyambut tantangan angin yang terputus-putus. Burung-burung tersebut nampak seperti sedang menikmati suasana libur dengan memperlihatkan gaya bertamasya yang indah penuh pesona.

Teluk Meru (foto/trekearth.com)
Teluk Meru

Untuk mencapai Teluk Meru diperlukan perjalanan selama enam jam dari Pantai Bandealit dengan berjalan kaki. Ketika itu hari mulai sore ketika kami memasuki Teluk Meru, disambut sinar matahari yang mulai menyurut. Lengkung langit di horison laut lepas memberikan ketegasan suasana. Bumi memutari matahari tak kenal henti, membawa cerita dalam setiap sisipan waktu. Seperti cerita beribu kelelawar kala itu yang ke luar  membentuk alur ceritanya sendiri menggapai senja. Perlahan jagat pun seolah raib ditelan cerita malam.

Drama alam dengan peralihannya tersingkap sesaat, menjembatani pergantian antar waktu. Teluk Meru memendam segala pandang, melahirkan cerita tentang singgasana sang ratu yang berada di laut sana. Aura entah berantah menjalari kesadaran seolah berpesan untuk tidak sembarang berucap. Walaupun suasana teluk meru terasa cool n’ calm namun alam bebas dan hamparan laut lepas pada malam hari memberikan kesan sakral yang tak bisa dipahami akal.

Teluk Permisan (foto/galuhrani.com)
Teluk Permisan

Teluk Permisan merupakan lintasan selanjutnya dalam perjalanan trans Meru Betiri. Perjalanan diawali  dengan menelusuri  sungai berbatu yang memiliki  kedalaman air semata kaki dan lebar sekitar dua meter. Di tengah perjalanan  terdapat suatu genangan air bening yang memantulkan keheningan dalam lebatnya hutan, suasananya membuat betah untuk berlama-lama. Di sana kita bisa bercengkrama dengan air bening sebagai pemuas rasa dahaga dan penyambung alur cerita, ada apa di balik semua yang dijaga.

Setelah berjalan kaki selama empat jam meniti jalur sungai, Teluk permisan pun mulai menampakan diri. Teluk Permisan memiliki karakter pantai berbatu dan berpasir. Suasananya asri seperti belum terjamah  manusia. Harmoni alam begitu kuat di sana, membentuk pertunjukan yang tak kunjung henti. Bukit ombak mengayun meliuk lampai meluncur mendominasi hamparan laut biru. Warna alam bertukar ganti memberi sensasi mengikuti waktu. Matahari, bulan dan bintang menawarkan pesona warna yang berbeda dengan keagungan-Nya.

Saat pagi tiba, geriap pasir putih seolah memanja dan menyapa yang baru tiba. Suara gedebar gedebur ombak memecah membusa, mengakhiri cengkraman cerita malam, memudarkan kesunyian. Hidup dalam kebersamaan mencapai keagungan bersama ciptaan-Nya memang selalu menakjubkan. Seperti halnya harmoni yang terjadi di Teluk Permisan, setiap bagian alam memerankan tanggung jawab siklus tak terputus. Lembut mendayu namun begitu kuat bergerak dalam komitmen waktu.

Pantai Sukamade (foto/cahayaedukasi.com)
Sukamade

Pantai Suka Made merupakan pos terakhir dalam penjelajahan trans TNMB. Dari Teluk Permisan menuju Suka Made bisa ditempuh selama empat jam. Pantai Suka Made merupakan bumi perkemahan, yang sengaja dibuat untuk lebih memudahkan dalam mengenal hutan pantai secara utuh, lengkap denga flora dan fauna khas TNMB. Selain tempat percontohan flora, di Suka Made juga terdapat tempat penangkaran penyu serta beberapa contoh margasatwa yang hidup di TNMB.

Namun cerita yang paling berkesan di pantai Suka Made yaitu saat malam hari, ketika kita bisa menyaksikan secara langsung, bagaimana penyu mendarat di pantai untuk bertelur. Malam yang cerah ketika itu tidak disia-siakan oleh kami untuk menyaksikan bagaimana proses bertelurnya penyu. Udara malam ketika itu cukup bersahabat, walaupun angin terkadang menerpa raut muka menggoda untuk bersabar dalam penantian. Gemuruh ombak mengingatkan untuk selalu siap dan tetap terjaga, agar semua cerita tersimak dengan sempurna. Dan malam ketika itu mempertunjukan  konser keindahan yang begitu mengagumkan, cerita alam bersatu dalam kehendak-Nya.

Ketakjuban malam itu memandu lamunan dalam sebuah kehidupan yang berlarut-larut. Hingga tak terasa seekor penyu yang ditunggu mulai menepi dalam permainan ombak, menuntaskan harapan untuk sebuah cerita, dalam sepenggal kisah tentang alam pelepas nestapa. (iH3).

About Adang Kusnadi

Sarjana Ekonomi Lululusan Universitas Islam Bandung. Memiliki minat pada masalah -masalah yang berkaitan dengan perbaikan tempat hidup manusia dengan visi personal ingin “mewujudkan alam yang manusiawi dan manusia yang alami.” Adang juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan Cimahi.
No comments yet.

Leave a Reply