Tips Mendaur ulang Berbagai Jenis Plastik

Seringkali kita merasa bingung saat akan melakukan daur ulang sampah plastik. Memang plastik ini sangat merepotkan, karena sebagian jenis plastik membutuhkan pemrosesan yang berbeda untuk digunakan kembali sebagai bahan baku. Biasanya beberapa penampung menerima semua jenis plastik untuk daur ulang, namun penampung yang lain hanya menerima jenis tertentu dengan nomor-nomor khusus.

Sejak Tahun 1988, di Amerika Serikat, kemasan plastik memiliki kode simbol dengan single digit antara 1 sampai 7 yang dikelilingi oleh gambar segitiga panah, yang dirancang oleh Society of the Plastics Industry (SPI). Hal ini dilakukan agar konsumen yang akan mendaur ulang plastik dapat membedakan jenis plastik. Angka-angka tersebut berlaku di 39 negara bagian di AS dengan mencantumkan kode pada semua ukuran kemasan plastik agar konsumen dapat mengidentifikasi jenis plastik. Menurut American Plastics Council sebuah grup industri perdagangan, simbol-simbol dalam kemasan palstik tersebut sangat membantu pekerjaan daur ulang secara lebih efektif.

Plastik termudah dan paling umum untuk didaur ulang terbuat dari Polyethylene Terephthalate (PETE) dan diberi kode nomor 1. Contohnya botol soda, air, wadah obat-obatan, dan produk umum lainnya. Setelah diproses oleh fasilitas daur ulang, plastik jenis PETE dapat menjadi fiberfill untuk mantel musim dingin, kantong tidur dan jaket, kantong kacang, tali, bumper mobil, bola tenis, sisir, pita kaset, layar untuk perahu, mebel dan tentu saja membuat botol plastik lagi.

Sedangkan kode nomor 2 adalah untuk plastik yang terbuat dari High Density Polyethylene (HDPE) yang memiliki kerapatan tinggi. Jenis ini biasanya digunakan untuk wadah sabun deterjen, pemutih, susu, shampo dan minyak motor. Plastik kode nomor 2 ini dapat didaur ulang menjadi mainan, pipa, bahan bangunan, dan tali plastik. Seperti halnya kode nomor 1, plastik kode nomor 2 banyak diterima di pusat daur ulang.

Kode nomor 3 adalah plastik yang berbahan Polyvinyl chloride, yang biasa digunakan dalam pipa plastik, tirai mandi, tubing medis, dashboard vinil, dan puting botol bayi. Sedangkan kode nomor 4 adalah plastik berbahan low density polyethylene, biasa dipakai untuk pembungkus film, tas belanja dan tas sandwich. Kode nomor 5 berbahan polypropylene, biasa digunakan sebagai wadah oleh Tupperware.

Kode nomor 6 adalah plastik berbahan polystyrene (styrofoam), yang biasa digunakan untuk barang-barang seperti cangkir kopi, sendok-garpu sekali pakai, nampan daging, pengepakan “kacang” dan isolasi. Plastik jenis ini diterima secara luas oleh penampung karena bisa diolah kembali menjadi banyak item produk termasuk untuk pita kaset dan insulasi busa kaku.

Terakhir, plastik kode nomor 7 adalah plastik yang paling sulit di recycle. Plastik jenis ini dibuat dari Polycarbonate yang merupakan kombinasi berbagai jenis plastik dengan formulasi yang unik dan tidak umum digunakan. Plastik jenis ini dapat ditemukan pada tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, alat-alat elektronik, dan plastik kemasan. Dengan demikian, plastik jenis ini jarang dikumpulkan atau didaur ulang. Biasanya setelah isinya digunakan para konsumen plastik jenis ini selalu mengembalikannya lagi kepada produsen produk agar tidak menjadi limbah. (iH2).

Sumber: http://environment.about.com/od/earthtalkcolumns/a/recycleplastics.htm, dirangkum dan diterjemahkan bebas oleh Arief Rustandy.

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply