Main Golf di Atas Tumpukan Sampah

Lapangan golf yang berasal dari TPA (Foto/The Open University, www.open.ac.uk)

Siapa sangka kita bisa bermain golf di atas tumpukan sampah. Bukan berarti bermain diatas tumpukan sampah yang kotor dan bau, namun di lapangan Golf yang asalnya adalah Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA). Seperti di Inggris misalnya, terdapat sekitar 6000an tempat golf yang dibawahnya adalah sampah yang sudah dipadatkan.

Jika TPA dioperasikan menggunakan sistem yang rapi seperti sanitary landfill (lahan urug saniter), bukan dibuang, ditumpuk dan dipadatkan alakadarnya (open dumping) seperti yang terjadi di Indonesia, maka pada akhir masa layan TPA, lahan TPA dapat diubah menjadi taman, tempat rekreasi, tempat olahraga, daerah perdagangan maupun area industri.

Membangun TPA bukanlah hal yang mudah. Memilih lahan yang tepat untuk tempat TPA saja sudah harus melibatkan berbagai ahli seperti ahli geologi, ahli hidrogeologi, ahli hidrologi, ahli kimia, ahli tanah, ahli ekologi, dan ahli teknik lingkungan.

Hal utama yang harus diperhatikan adalah terhindarnya pencemaran air tanah oleh limbah cair TPA (lindi). Karena itu daerah yang batuannya terlalu berpori, atau daerah aquifer, adalah daerah-daerah yang harus dihindari untuk dijadikan lahan TPA.

Selanjutnya konstruksi TPA harus sangat memperhatikan aliran limbah agar tidak mencemari lingkungan. Adanya hujan dan dekomposisi sampah anaerob akan menghasilkan limbah berupa lindi serta gas berupa metan (CH4) dan karbon dioksida (CO2).

Agar lindi tidak bermigrasi, bagian bawah TPA harus diberikan lapisan kedap, dapat berupa bahan alami seperti tanah liat atau bahan sintetis seperti aspal dan polietilen. Selain itu dibuat sistem drainase dengan pemasangan pipa dan kemiringan TPA tertentu sehingga aliran lindi dapat terkontrol. Selanjutnya lindi harus diolah pada instalasi pengolah air limbah (IPAL).

Pipa vertikal pada tempat-tempat tertentu harus dipasang untuk mengalirkan gas CH4, dan gas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar atau sumber energi pembangkit listrik. Hal lain yang penting adalah penempatan titik pemantauan untuk air tanah dan gas yang harus dilakukan terus menerus baik pada masa layan TPA maupun sedikitnya 30 tahun setelah TPA ditutup.

Pada masa kini, pembuangan sampah ke TPA merupakan pilihan terakhir. Sedapat mungkin terlebih dahulu melakukan daur ulang sampah, menggunakan kembali bahan yang masih berguna, melakukan pengomposan untuk sampah organik, atau membakar sampah (insinerasi) pada instalasi pembangkit listrik yang terkontrol (waste to energy).

Selain itu, harus dibedakan pula antara TPA yang menampung sampah yang tidak mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3), dan TPA yang menampung sampah B3. Konstruksi TPA yang lebih aman (secured landfill) diperlukan untuk TPA penampung sampah B3 agar benar-benar tidak mencemari lingkungan. (oleh: Kania Dewi).

No comments yet.

Leave a Reply