Embun, Alternatif Sumber Daya Air di Daerah Berkabut

Manusia mutlak memerlukan air untuk melangsungkan kehidupannya. Namun sayangnya, tidak semua orang di dunia ini terpenuhi kebutuhan akan airnya. Syarat terpenuhinya kebutuhan air harus dilihat dari berbagai sisi, diantaranya kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas. Artinya, air yang tersedia harus memenuhi persyaratan agar berfungsi secara baik dalam penggunanya, tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai kebutuhan, serta ada setiap saat diperlukan.

Sumber air baku yang diolah menjadi sumber air bersih/air minum untuk kebutuhan sehari-hari diperoleh dari mata air, air tanah, air hujan, ataupun air permukaan (sungai, danau atau laut). Sebelum dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari, air diolah terlebih dahulu dengan sistem pengolahan yang ditentukan oleh kualitas sumber air.

Jika sumber air bakunya sudah cukup bagus, misalnya dari mata air, biasanya pengolahan yang diperlukan hanya berupa desinfeksi untuk menghilangkan mikroorganisme yang dapat membahayakan tubuh manusia. Jika sumber air baku berasal dari air permukaan, sistem pengolahan lengkap pada instalasi pengolah air wajib digunakan untuk menjernihkan air. Apalagi jika sumbernya berasal dari air laut, sistem pengolahan yang mahal seperti reverse osmosis harus diaplikasikan.

Selain sumber air baku tadi, untuk daerah yang sering berkabut, alam menyediakan sumber air yang istimewa, yaitu embun dari kabut. Penduduk di desa Chungungo Chili misalnya, yang terletak 450 km sebelah utara dari Santiago ibukota Chili, mendapat ide menjadikan kabut sebagai sumber air setelah melihat embun yang menetes dari permukaan daun.

Jaring plastik penangkap kabut untuk memanen embun (Sumber: Water Drop of Life, Short Movie)

Mereka memasang jaring plastik pengganti daun untuk menangkap kabut dan memanen embun. Tetesan embun sedikit demi sedikit terkumpul pada pipa pengumpul (gutter) dan dialirkan ke penampung. Dari penampung ini, air disalurkan ke sekitar 350 orang penduduk Chungungo, dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari bahkan untuk menyirami tanaman pada lahan sekitar 4 hektar. Tersedialah air yang murah dengan kualitas yang baik, sehingga penduduk Chungungo tidak lagi menunggu truk air yang harus menempuh 50 km untuk mengantarkan air satu atau dua kali dalam seminggu (KD, April 2011).

No comments yet.

Leave a Reply