IPAL Simmering, Instalasi Pengolah Air Limbah Terbaik di Dunia

Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) untuk limbah domestik (rumah tangga) terutama yang berasal dari WC sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya pencemaran. Air limbah yang dibuang begitu saja ke sungai jika sudah melampaui daya dukung sungai, akan menimbulkan penyakit. Sejarah di Inggris misalnya membuktikan pernah terjadi wabah kolera akibat air yang terkontaminasi buangan manusia.

Salah satu contoh IPAL yang sangat ramah lingkungan dan salah satu yang terbaik di dunia terdapat di Vienna Austria. Dibangun dengan investasi lebih dari 220 juta Euro, IPAL yang terletak di daerah Simmering, daerah yang topografinya paling rendah di Vienna, mampu mengolah air limbah setara dengan kapasitas air limbah yang dihasilkan oleh 4 juta penduduk (500 ribu m3 air limbah per hari). Sekitar 98% penduduk Vienna telah terhubung dengan IPAL ini melalui sistem penyaluran air limbah (sewerage) sepanjang 2300 km.

IPAL Simmering, Vienna Austria (Sumber: Design and Construction of the WWTP of Vienna, Harald Kainz, 2000)

Pada IPAL Simmering, debit air buangan yang masuk ke dalam IPAL diatur sedemikian rupa menggunakan komputer, karena air buangan yang dibawa melalui saluran air limbah bercampur dengan air hujan dari sistem drainase. Pada tahap pertama (primary treatment) yang ditujukan untuk menghilangkan materi kasar (kerikil, pasir, sampah) dan partikel tersuspensi, air buangan melewati unit penangkap kerikil (gravel trap), instalasi penyisih sampah (screening plant), unit penangkap pasir (sand trap) dan tangki pengendap utama (primary settling tank). Dari tahap pertama ini tersisihkan sekitar 15 ton kerikil dan 70 ton sampah per minggu, serta  120 ton lumpur per hari atau setara dengan berat total 110 buah mobil kecil.

Tahap kedua (secondary treatment) ditujukan untuk menyisihkan senyawa organik terlarut menggunakan unit biologi berupa tangki aerasi (aeration tank). Pada tangki ini ditumbuhkan mikroogranisme aerob dengan suplai oksigen yang cukup, sebagai pemangsa senyawa organik terlarut yang terdapat dalam air buangan.

Dengan demikian senyawa organik terlarut tersebut akan berpindah dari air buangan menjadi bagian dari mikroorganime. Lumpur mikroorganisme semakin banyak terbentuk dan selanjutnya diendapkan pada tangki pengendap kedua (secondary settling tank). Tahap ketiga (tertiary treatment) ditujukan untuk menghilangkan nutrien (senyawa nitrogen dan fosfor) menggunakan 15 buah tangki aerasi dan 15 buah tangki pengendap berdiameter masing-masing 64 m.

Lumpur yang dihasilkan dari setiap tahap pengolahan, diolah menggunakan unit pengental lumpur (sludge thickening tank) dan pengering lumpur. Lumpur yang sudah kering dibakar pada unit insinerasi (fluidized bed incinerators) dengan suhu 850oC, sedangkan air yang terpisahkan dari lumpur dikembalikan ke IPAL. Setelah 20 jam melewati proses di IPAL Simmering, 95% senyawa organik dan 70% senyawa nitrogen tersisihkan, dan air buangan siap disalurkan ke badan air penerima (Sungai Danube), (KD, Apri 2011).

No comments yet.

Leave a Reply