Paparan Pestisida Pralahir Pengaruhi IQ Anak

Sebuah studi baru menyebutkan bahwa pestisida dapat mempengaruhi kesehatan dan perkembangan anak-anak. Para peneliti di University of California, Berkeley School of Public Health menemukan bahwa paparan pralahir untuk organofosfat pestisida yang banyak digunakan pada tanaman pangan, berhubungan dengan rendahnya skor kecerdasan anak pada usia 7 tahun.

Penelitian UC Berkeley tentang hubungan antara paparan pestisida dan IQ anak ini diterbitkan secara online dalam Jurnal Environmental Health Perspectives, 21 April 2011. Ada dua studi yang secara khusus meneliti tentang hal ini, yaitu penelitian oleh Columbia University di Mt. Sinai Medical Center, dengan populasi masyarakat perkotaan di New York City. Sedangkan studi UC Berkeley difokuskan pada anak-anak yang tinggal di Salinas, pusat pertanian di Monterey County, California.

Para peneliti menemukan bahwa setiap peningkatan sepuluh kali lipat ukuran organofosfat yang terdeteksi selama kehamilan seorang ibu, maka akan dapat menurunkan titik poin sebanyak 5,5 dari keseluruhan skor IQ anak dalam usia 7 tahun. Dalam studi ini, anak-anak dengan tingkat paparan pestisida pralahir tinggi, memiliki standar kecerdasan tujuh poin lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang tingkat paparan pestisidanya rendah.

“Ini masalah besar, terutama ketika menimpa pada tingkat populasi luas. Rata-rata anak-anak yang terpapar akan berada pada spektrum terbawah dalam pembelajaran, sehingga memerlukan pelayanan khusus di sekolahnya.” kata peneliti utama studi Brenda Eskenazi, Profesor Epidemiologi dan Kesehatan Ibu dan Anak di UC Berkeley.

Penelitian Columbia University di New York juga memeriksa pengaruh paparan pestisida pralahir terhadap IQ anak-anak pada usia 7 tahun. Seperti halnya peneliti di UC Berkeley, ilmuwan di Mt. Sinai juga mengambil sampel metabolit pestisida dalam urin ibu. Sedangkan para peneliti di Columbia mengamati pengaruh tingkat paparan pada umbilical cord blood (sampel darah pada tali pusar) yang diakibatkan paparan pestisida tertentu, yaitu klorpirifos.

“Hal ini sangat tidak biasa jika melihat banyaknya konsistensi antar populasi dalam penelitian, sehingga berpengaruh kepada pentingnya temuan. Anak-anak sekarang berada pada usia sekolah, sehingga harus mendapatkan perhatian yang baik dan penilaian yang valid terhadap fungsi kognitifnya.” kata Maryse Bouchard, yang juga peneliti di UC Berkeley bersama Eskenazi

Organofosfat (OP) adalah kelas pestisida yang terkenal memiliki neurotoxicants. Sehingga penggunaan klorpirifos dan diazinon (dua jenis pestisida OP) di dalam ruangan telah dilarang dalam dekade terakhir ini, karena beresiko bagi kesehatan anak-anak.

Sebanyak 329 anak-anak dalam studi UC Berkeley telah dipantau sejak sebelum kelahiran sebagai bagian dari Center for the Health Assessment of Mothers and Children of Salinas (CHAMACOS), sebuah studi longitudinal yang dipimpin oleh Eskenazi. Temuan baru tentang hal ini lahir setahun setelah studi CHAMACOS lainnya tentang hubungan antara paparan pestisida pralahir dengan masalah perhatian pada anak-anak usia 5 tahun.

Pada Tahun 1999, peneliti mulai mendaftar ibu hamil. Kemudian setelah melahirkan, peneliti secara rutin datang berkunjung bersama staf CHAMACOS dengan membawa kuesioner dan memeriksa perkembangan kesehatan anak-anak. Selama kunjungan, sampel urin diambil dari peserta dan diuji dialkyl fosfat (DAP) metabolitnya, hasil uraian sekitar 75 persen dari insektisida organofosfat digunakan di Amerika Serikat. Sampel diambil dua kali selama kehamilan, dengan dua hasil yang rata-ratakan, dan setelah kelahiran dari anak-anak secara teratur antara usia 6 bulan dan 5 tahun.

Kemudian Wechsler Intelligence Scale untuk Anak-anak, Edisi Keempat (WISC-IV) digunakan untuk menilai kemampuan kognitif anak pada usia 7 tahun. Pengujian meliputi subkategori untuk pemahaman verbal, penalaran persepsi, memori kerja dan kecepatan pemrosesan. Selain hubungan dengan skor IQ secara keseluruhan, dilihat dari empat subkategori perkembangan kognitif, ternyata terjadi penurunan yang signifikan dalam skor terkait pada ibu hamil dengan tingkat DAPs tinggi. Hasil temuan ini setelah peneliti mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti pendidikan ibu, pendapatan keluarga dan paparan kontaminan lingkungan lainnya, termasuk DDT dan retardants api.

Menurut Eskenazi, ada keterbatasan dalam mempelajari penggunaan metabolit untuk menilai ini, sehingga kita tidak dapat mengisolasi pemaparan terhadap bahan kimia pestisida tertentu. Tapi cara ini adalah salah satu metode terkuat yang tersedia untuk mempelajari bagaimana faktor lingkungan mempengaruhi kesehatan anak-anak. Paparan pestisida OP saat kehamilan secara signifikan berkorelasi dengan perkembangan IQ masa kanak-kanak, tapi paparan pestisida setelah lahir tidak ada korelasinya. Hal ini menunjukkan bahwa paparan selama perkembangan otak janin lebih kritis dibanding paparan masa kanak-kanak.

“Temuan ini mungkin berlaku juga untuk masyarakat umum, tidak hanya bagi mereka yang hidup di lahan pertanian saja.” kata Bouchard, Peneliti di Departemen Lingkungan dan Kesehatan Kerja, University of Montreal Canada.

Dampak dari hasil penelitian ini penggunaan pestisida OP di Amerika Serikat mengalami penurunan lebih dari 50 persen antara 2001-2009, dan sekitar 45 persen sejak tahun 2001 di California. Pada saat yang sama, penggunaan pestisida OP di Monterey County tetap stabil antara 2001-2008, tetapi menurun 18 persen dari 2008-2009. Beberapa studi lain menunjukkan bahwa paparan pestisida OP telah turun karena penggunaannya yang juga menurun.

Menurut Centers for Disease Control, manusia bisa terkena pestisida OP melalui makanan dari tanaman yang menggunakan bahan kimia. Para pekerja pertanian, tukang kebun, toko bunga, aplikator pestisida dan produsen insektisida memiliki kemungkinan terpapar yang lebih besar daripada populasi umum. “Banyak orang juga terpapar ketika pestisida yang digunakan di rumah, sekolah atau bangunan lainnya,” kata Asa Bradman, Direktur Pusat Penelitian Lingkungan di Kesehatan Anak (CERCH) di UC Berkeley.

“Saya khawatir nantinya orang-orang tidak makan yang benar berdasarkan hasil penelitian ini. Padahal ibu-ibu yang hamil, perlu makan makanan yang kaya buah-buahan dan sayuran.” kata Eskenazi.

Para peneliti merekomendasikan agar konsumen mengurangi penggunaan pestisida di rumah. Cucilah buah-buahan dan sayuran, jangan dibilas terlalu cepat, kalau perlu gunakan sikat lembut. Konsumen juga dapat mempertimbangkan untuk membeli produk organik bila memungkinkan sebagai cara untuk mengurangi paparan pestisida dari makanan.

Memang serba salah, di satu sisi kita memerlukan makanan sayuran dan buah-buahan untuk kesehatan, namun di sisi lain resiko terpapar pestisida sangat tinggi jika mengkonsumsinya. Sudah saatnya kita bijak terhadap lingkungan dan makanan kita! (iH2).

Sumber: http://www.sciencedaily.com/releases/2011/04/110421082519.htm dirangkum dan diterjemahlan oleh Arief Rustandy.

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply