Waste to Energy Plant, bukan Mustahil namun Mahal

Incineration plant atau dikenal juga dengan waste to energy plant adalah instalasi yang dapat mengkonversikan sampah (waste) menjadi sumber energi. Sebenarnya dalam hirarki pengelolaan sampah, mengolah sampah dengan sistem ini menempati urutan ke empat, setelah avoid-minimize-reuse/recycle, sedangkan urutan ke lima atau terakhir adalah dispose.

Avoid artinya menghindari untuk menghasilkan sampah, misalnya saja tidak menggunakan plastik yang disediakan supermarket sewaktu berbelanja, dan sebagai gantinya membawa tas belanja sendiri dari rumah yang bisa digunakan berkali-kali.

Kemudian minimize adalah mengurangi sampah yang ditimbulkan seperti menggunakan kertas bolak balik. Berikutnya reuse adalah kegiatan penggunaan kembali sampah untuk fungsi yang sama atau fungsi lain, recyle atau daur ulang adalah memanfaatkan sampah menjadi produk baru. Pilihan terakhir dalam mengelola sampah adalah dispose atau membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir sampah (TPA).

Waste to energy plant sebenarnya masih banyak diperdebatkan di seluruh dunia, terutama akibat pencemaran udara yang dapat ditimbulkan jika teknik pembakaran dan pengendalian  pencemaran udara tidak ditangani dengan baik. Namun sebenarnya ini bukan sesuatu yang mustahil karena memang teknologi pengendalian pencemaran udara telah tersedia.

Instalasi Waste to Energy, Vienna Austria (Sumber foto: Neubacher 2010, Aberdeen Exibition & Conference Center Scotland)

Contoh insinerator sampah yang bekerja dengan baik adalah Spittelau Plant (mulai beroperasi tahun 1989), yang terletak di tengah kota Vienna Austria. Tempat yang bersih, asri, serta bentuk cerobong yang unik dengan warna yang menarik, membuat orang awam tidak akan menyangka bahwa itu adalah tempat pembakaran sampah. Insinerator ini membakar rata-rata 780 ton sampah per hari dan menghasilkan total 85 MW energi yang digunakan untuk keperluan instalasi dan pelayanan umum. Sekitar 60MW energi panas per jam dihasillkan untuk melayani konsumsi energi 15 ribu rumah dengan rata-rata luas 80m2.

Bukan hanya sisi arsitektur yang menarik, insinerator ini dirancang menggunakan teknologi pengendalian pencemaran udara yang dapat memenuhi kriteria batasan emisi pencemar udara yang ditetapkan pemerintah setempat. Insinerator ini menggunakan teknologi boiler jenis grate firing, dilengkapi dengan serangkaian sistem pengendalian pencemaran udara. Electrostatic precipitator dipasang untuk menyisihkan debu hasil pembakaran.

Selanjutnya terdapat dual wet scrubber untuk menghillang senyawa klorida, fluorida, uap logam serta sulfur dioksida (SO2) yang terlepas saat pembakaran. Selective catalytic reduction (SCR-DeNOx) dan fasilitas destruksi dioksin digunakan untuk mengendalikan oksida nitrogen dan dioxin.

Namun bagaimanapun, tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini. Meski bukan mustahil di gunakan untuk mengolah sampah, sistem ini sangat mahal terutama dari segi operasional unit-unit pengendali pencemaran udara. Seringkali lebih dari setengah biaya operasional digunakan untuk pengendalian pencemaran udara. Dengan demikian sistem ini tidak praktis digunakan untuk negara yang kurang mampu untuk membeli energi dengan harga mahal.

Bagaimana dengan Indonesia, kota Bandung khususnya yang berencana membuat insinerator sampah di daerah Gede Bage? Persiapan matang, serta konsistensi dalam mengoperasikan teknologi yang rumit dan mahal untuk memelihara lingkungan menjadi satu keharusan. Jika Indonesia sudah berubah dari negara yang  hanya pandai berinvestasi, menjadi negara yang pandai memelihara investasinya agar beroperasi sebagaimana mestinya, maka saat itulah Indonesia siap mengoperasikan insinerator sampah (KD, April 2011).

No comments yet.

Leave a Reply