Global Dimming Sembunyikan Kekuatan Nyata Global Warming

Produksi bahan bakar fosil telah menciptakan dua efek pada bumi ini, yaitu efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global (global warming), serta efek produk sampingan yang merupakan bahan pencemar yang menyebabkan peredupan/pendinginan global (global dimming).

Hasil pemanasan global dari efek rumah kaca yang disebabkan antara lain oleh, gas rumah kaca yang berlebihan di atmosfer bumi sebagai sisa pembakaran bahan bakar fosil, menjadikan produk sampingan untuk global dimming menjadi penyelamat yang ironis.

Produk sampingan ini, seperti belerang dioksida, jelaga, dan abu, merupakan polutan yang bisa mengubah sifat-sifat awan. Awan terbentuk ketika tetesan air menempel pada partikel udara, seperti halnya serbuk sari. Polusi udara (primer) yang dibawah serta oleh tetesan air tersebut menjadikan awan tercemar. Hal ini kemudian membuat awan lebih reflektif dari panas matahari dan energi karena dipantulkan kembali ke angkasa.

Polutan yang mengarah ke global dimming juga menyebabkan masalah bagi manusia dan lingkungan, seperti asap, pernapasan, dan hujan asam. Jadi, bagaimanapun dampak global dimming itu sendiri, sangat menghancurkan.

Ahli iklim yang mempelajari fenomena ini percaya bahwa refleksi panas telah membuat perairan di belahan bumi utara sangat dingin. Akibatnya, curah hujan sangat kurang di daerah-daerah kunci yang membutuhkan banyak air, misalnya di Sahel, Afrika Utara. Pada 1970-an dan 1980-an, kekeringan di negara ini telah menyebabkan kelaparan dan bahkan kematian penduduknya. Global dimming tampaknya telah menyediakan catatan dokumenter yang mengerikan. Khususnya apa yang telah terjadi di Eropa dan Amerika Utara dengan polusinya, telah memberikan kontribusi terhadap kematian 1 juta orang dan 50 juta lebih lainnya menderita kelaparan di Benua Afrika.

Bahkan para ilmuwan mengatakan bahwa dampak dari global dimming tidak mungkin hanya dalam jutaan, tetapi miliaran. Benua Asia yang memiliki setengah populasi dunia, sekitar 3 milyar penduduknya akan terkena dampak global dimming jika tiba saat musim hujan yang disertai polusi udara.

Seperti halnya pembakaran bahan bakar fosil, Contrails (uap dari pesawat terbang) dipandang sebagai penyebab lain yang signifikan dari refleksi panas. Setelah peristiwa serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat, semua penerbangan komersialnya dihentikan dalam jangka waktu tiga hari ke depan. Hal ini kemudian digunakan para ilmuwan iklim untuk melihat efek pada iklim saat tidak ada contrails dan tidak ada refleksi panas. Hasilnya, para ilmuwan menemukan bahwa suhu naik beberapa derajat Celcius dalam jangka waktu 3 hari.

Dampak pendinginan global telah menimbulkan kekhawatiran para ilmuwan karena telah menyembunyikan kekuatan sebenarnya dari pemanasan global. Saat ini kondisinya sudah sangat serius, karena diprediksi akan terjadi peningkatan suhu 5 derajat Celcius sampai abad berikutnya. Namun rupanya pendinginan global telah meremehkan kekuatan pemanasan global.

Ironis memang, jika masalah global dimming ditangani, maka dampak dari pemanasan global akan lebih meningkat lagi. Contohnya, Tahun 2003 di Eropa, berbagai upaya telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk membersihkan emisi dan mengurangi polusi yang menciptakan masalah asap dan lainnya. Tetapi tanpa mengurangi emisi gas rumah kaca di paralel. Hal ini dimungkinkan memiliki efek, terutama mampu mengurangi tingkat keparahan kekeringan dan gagal hujan di Sahel, Afrika Utara. Namun, dampak lanjutannya telah menyebabkan gelombang panas di Eropa pada tahun 2003 yang menewaskan ribuan orang di Perancis, kebakaran hutan di Portugal, dan menyebabkan banyak masalah lain di dunia.

Kerusakan irreversibel diprediksi akan terjadi dalam 30 tahun ke depan, dimana lingkup kerusakannya akan mencakup tingkat global, diantaranya:

  • Mencairnya es di Greenland, yang akan mengakibatkan naiknya permukaan air laut. Hal ini pada gilirannya akan berdampak bagai banyak kota besar di dunia.
  • Pengeringan hutan hujan tropis akan meningkatkan risiko terbakar. Hal ini akan melepaskan banyak karbon dioksida ke atmosfir, sehingga meningkatkan efek pemanasan global.
  • Efek lainnya dapat meningkatkan suhu dari 5 derajat ke 10 derajat Celcius dalam 100 tahun ke depan. Ini akan menjadi pemanasan lebih cepat daripada waktu lainnya dalam sejarah.
  • Vegetasi akan mati lebih cepat dan erosi tanah akan meningkat serta produksi pangan akan gagal.

Jika kita menggunakan polutan global dimming untuk mencegah dampak pemanasan global, kita masih akan menghadapi banyak masalah, seperti: masalah kesehatan manusia dari jelaga dan asap, hujan asam, dan masalah ekologis seperti perubahan pola curah hujan. Oleh karena itu, para ilmuwani iklim menekankan bahwa global dimming yang menyebabkan polusi dan pemanasan global harus ditangani bersama dan segera.

Kita mungkin harus mengubah cara hidup kita. Karena pesan-pesan untuk segara melakukan penyelamatan lingkungan dan aksi-kasi keprihatinan terhadap perubahan iklim, sudah  muncul selama lebih dari 20 tahun terakhir ini. Namun nyatanya hanya sedikit orang yang telah melakukan dalam bentuk tindakan nyata. Mari kita lakukan lebih cepat, sebelum kita kehabisan waktu. (iH2).

Sumber: http://www.globalissues.org/article/529/global-dimming posted by Anup Shah disunting dan diterjemahkan oleh Arief Rustandy.

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply