Dicemari Limbah Cair Industri, Masyarakat Rancaekek Menjerit (2)

Berdasarkan hasil verifikasi lapangan pada tanggal 29 April 2008 atas pengaduan pencemaran lingkungan di Kecamatan Rancaekek menunjukan bahwa air limbah industri yang dibuang ke Sungai Cikijing diduga berada diatas ambang baku mutu dan mengandung Natrium (Na) dan Chlor (Cl), sehingga padi yang ditanam tidak tumbuh dan kalaupun ada yang tumbuh buahnya tidak berisi. Begitu juga ikan tidak akan hidup dan kalaupun ada yang hidup produktivitasnya rendah dan diduga mengandung timbal.

Sanksi Administrasi Bagi Pencemar

Untuk mengatasi hal tersebut Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sumedang Tanggal 19 Desember 2008, membnerikan teguran terhadap PT Kahatex karena BOD dan COD diatas baku mutu. Tanggal 10 Maret 2009 dikeluarkan sanksi administrasi perintah melakukan tindakan tertentu sesuai Pasal 25 s/d 27 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dengan isi perintah sebagai berikut:

  1. Optimalisasi IPAL sehingga limbah cair industri yang dibuang ke media lingkungan sesuai dengan baku mutu. Teknik yang dapat dilakukan untuk hal tersebut adalah  evaluasi pada proses flokulasi dan koagulasi, evaluasi pada unit proses di unit sedimentasi, melakukan pengolahan untuk menghitung Natrium (Na) dan Chlor (Cl), membuat unit filtrasi di outlet, membuat pemanfaatan air kembali (water use), melakukan recharging air ke dalam tanah.
  2. Merubah pembuangan dari Sungai Cikijing ke badan air yang lain dengan sistem tertutup.
  3. Membuat kolam penampungan limbah akhir setelah melalui pengolahan sebelum dibuang ke badan air penerima.
  4. Memasang alat monitoring pengukur baku mutu limbah cair di kolam penampungan limbah cair.

Berdasarkan rapat pembahasan penyelesaian kasus Rancaekek yang dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2010 di BPLHD Provinsi Jawa Barat, menghasilkan beberapa kesimpulan diantaranya:

  1. Evaluasi Penanganan Kasus Berdasarkan 7 (tujuh) Tuntutan Masyarakat. Evaluasi penanganan kasus pengaduan pencemaran dan atau perusakan lahan pertanian di Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung berdasarkan 7 (tujuh) tuntutan Masyarakat Kecamatan Rancaekek tanggal 26 Februari 2008 adalah sebagai berikut: Pemulihan lahan yang terkena limbah sehingga menjadi lahan produktif lagi,  Baku Mutu Limbah Cair 0% (bersih), bermanfaat bagi lahan pertanian dan masyarakat, Adanya pengawasan yang tegas dari instansi terkait, terhadap perusahaan, dibuatkan IPAL Terpadu jauh dari kawasan pemukiman atau perumahan, namun lokasi masih di wilayah Kecamatan Rancaekek, Normalisasi Kali Cikijing, Cimande dan Cikeruh untuk segera direalisasikan, pihak yang telah menimbulkan kerugian bagi para petani harus bertanggung jawab, antara lain; sawah yang terkena dampak limbah ± 415 ha, yaitu Desa Sukamulya, Jelegong, Bojongloa dan Linggar dan dibuatkan Sungai Gendong, bagi masyarakat petani yang terkena limbah dengan sumber air dari Bendungan Depok.
  2. Evaluasi Terhadap Kesepakatan Jangka Pendek. Telah dilakukan kesepakatan jangka pendek Nomor 660.1/1.423/I, tanggal 11 Juni 2008 antara Warga Desa Jelegong, Desa Linggar, Desa Sukamulya, dan Desa Bojongloa Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung dengan PT Kahatex dan PT Insan Sandang, dengan butir-butir kesepakatan dan evaluasi tindak lanjutnya sebagai berikut: Melaksanakan Optimalisasi sistem kinerja IPAL, Pemberian Bantuan Kesehatan Pembelian obat-obatan, Pemberian Bantuan Pinjaman Modal untuk Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Ketenagakerjaan.

Saran dan Rekomendasi

Strategi penyelesaian kasus Rancaekek dirumuskan dengan mempertimbangkan dua hal utama yaitu, Tuntutan masyarakat yang dimanifestasikan dalam bentuk 7 (tujuh) tuntutan masyarakat danPertimbangan ilmiah berdasarkan analisis situasi konflik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan dua pertimbangan tersebut, strategi penyelesaian kasus Rancaekek dibagi ke dalam empat strategi utama, yaitu:

  1. Penghentian Pencemaran, meliputi 3 tuntutan masyarakat, yaitu:  Baku Mutu Limbah Cair 0% (bersih), bermanfaat bagi lahan pertanian dan masyarakat, Adanya pengawasan yang tegas dari instansi terkait, terhadap perusahaan, dibuatkan IPAL terpadu yang jauh dari kawasan pemukiman atau perumahan, namun lokasi di wilayah Kecamatan Rancaekek.
  2. Ganti Rugi dan Pemulihan, meliputi 2 bentuk, yaitu: (a) Ganti Rugi dan Pemulihan Lahan Privat. Strategi ini meliputi 2 tuntutan masyarakat, yaitu: (1) Pemulihan lahan yang terkena limbah sehingga menjadi lahan produktif lagi, dan (2) Pihak yang telah menimbulkan kerugian bagi para petani harus bertanggung jawab, antara lain; sawah yang terkena dampak limbah ± 415 ha, yaitu Desa Sukamulya, Jelegong, Bojongloa dan Linggar. (b) Ganti Rugi dan Pemulihan Lingkungan Publik. Strategi ini meliputi 2 tuntutan masyarakat, yaitu: (1) Normalisasi kali Cikijing, Cimande dan Cikeruh untuk segera direalisasikan, dan (2) Buatkan sungai gendong, bagi masyarakat petani yang terkena limbah dengan sumber air dari bendungan Depok.
  3. Penataan Kawasan dan Kebijakan, yang meliputi masalah harmonisasi tata ruang dan kebijakan baku mutu pencemaran dan kriteria baku kerusakan lingkungan.
  4. Pemulihan Kehidupan Sosial Ekonomi, yang meliputi aspek penyerapan tenaga kerja lokal, penyediaan sarana air bersih dan kesehatan. (iH2).

Sumber Tulisan:

  • BPLHD Jabar (2003), Laporan Akhir Pekerjaan Penyusunan Feasibility Study IPAL Gabungan Industri di Wilayah Rancaekek Kabupaten Sumedang Propinsi Jawa Barat.
  • BPLHD Jabar (2007), Laporan Akhir Upaya Pemulihan Lahan Pertanian akibat Pencemaran Limbah Industri dengan Teknologi Bioremediasi di Wilayah Rancaekek Kabupaten Bandung.
  • Ecotas Group (2010), Notulensi rapat pembahasan penyelesaian kasus Rancaekek yang dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2010 di BPLHD Provinsi Jawa Barat.
  • Ecotas Group (2010), Peta Jalan Penyelesaian Kasus Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Rancaekek 1991-2010. Laporan Akhir.

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
No comments yet.

Leave a Reply