Obrolan tentang Definisi Ruang Terbuka Hijau

Definisi Ruang Terbuka Hijau dalam Raperda tentang pengelolaan Ruang Terbuka Hijau kota Bandung masih bersifat umum, tidak fokus dan belum memberikan gambaran secara spesifik apa dan bagaimana Ruang Terbuka Hijau secara khusus.Hal tersebut bisa mengakibatkat perdebatan dalam menafsirkan 30% Ruang Terbuka Hijau perkotaan untuk Kota Bandung.

Yang dimaksud Ruang Terbuka Hijau dalam Raperda tersebut adalah “Ruang terbuka hujau yang selanjutnya di singkat RTH adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh alamiah maupun yang sengaja ditanam”.

Definisi tersebut terindikasi untuk menjustifikasi pencapaian 30% Ruang Terbuka Hijau Kota Bandung, tanpa menelaah aspek fungsi dan manfaat RTH secara komprehensif.

Seyogyanya Ruang Terbuka Hijau itu harus mempunyai fungsi “ekologis”, yang berfungsi sebagai paru-paru kota, peresapan air, pencegahan polusi, pengatur suhu udara dan perlindungan terhadap flora.

Sampai saat ini RTH Kota Bandung masih belum sesuai dengan harapan, yakni terwujudnya ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan. Menurunnya kualitas permukiman di kota Bandung bisa dilihat dari kemacetan yang semakin parah, berkembangnya kawasan kumuh yang rentan dengan berbagai bencana serta semakin hilangnya ruang terbuka (Openspace) untuk artikulasi dan kesehatan masyarakat.

Secara definitif, Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat  tertentu, dan atau sarana lingkungan/kota, dan atau pengamanan jaringan prasarana.

Selain untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, Ruang Terbuka Hijau (Green Openspaces) di tengah-tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota.

Hal-hal tersebut mengemuka dalam diskusi OBRASS-Obrolan Sabtu Sore di DPKLTS tanggal 2 April 2011 dengan thema  “Membedah Raperda Kota Bandung tentang Pengelolaan RUANG TERBUKA HIJAU.”

Hadir dalam diskusi tersebut sebagai pembicara Eko Sesotyo, SE (Pansus IV DPRD Kota Bandung), Prof. Erri N. Megantara (PPSDAL Unpad) dan Ir. Diah Ivoniarty (IALI Jabar).

Sejumlah areal  di  kota Bandung, dalam beberapa dasawarsa terakhir  ini,  telah tersingkir akibat pembangunan gedung-gedung yang cenderung berpola “kontainer” yakni bangunan yang secara sekaligus dapat menampung berbagai aktivitas sosial ekonomi, seperti Mall, Perkantoran, Hotel, dsb, yang berpeluang menciptakan kesenjangan antar lapisan masyarakat. Karena hanya orang-orang kelas menengah ke atas saja yang bisa  datang ke tempat-tempat semacam itu.

Perhitungan kebutuhan ruang terbuka hijau seharusnya dilandasi oleh pemikiran bahwa Ruang Terbuka Hijau tersebut merupakan komponen alam, yang berperan menjaga keberlanjutan proses di dalam ekosistemnya. Oleh karena itu Ruang Terbuka Hijau dipandang memiliki daya dukung terhadap keberlangsungan lingkungannya.

Dalam hal ini ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di dalam lingkungan binaan manusia yang harus dicapai yaitu minimal sebesar 30%.

Sifat dari vegetasi di dalam ruang terbuka hijau yang dibutuhkan kota Bandung adalah RTH yang memiliki kemampuan untuk melakukan proses fotosintesis, yaitu proses metabolisme  di dalam vegetasi dengan menyerap gas CO2, lalu membentuk gas oksigen.

CO2 adalah jenis gas buangan kendaraan bermotor yang berbahaya, sedangkan gas oksigen adalah gas yang diperlukan bagi kegiatan pernafasan manusia. Dengan demikian ruang terbuka hijau kota Bandung selain mampu mengatasi gas berbahaya dari kendaraan bermotor, sekaligus menambah suplai oksigen yang diperlukan masyarakat kota Bandung.

Besarnya kebutuhan ruang terbuka hijau dalam mengendalikan gas karbon dioksida ini ditentukan berdasarkan target minimal yang dapat dilakukannya untuk mengatasi gas karbon dioksida dari sejumlah kendaraan dari berbagai jenis kendaraan yang memadati kota Bandung.

Mengingat tidak semua tanaman memiliki fungsi ekologis yang efektif terhadap ketersediaan oksigen baik sebagai penyedia udara sehat ataupun juga sebagai pengatur suhu udara Kota, maka definisi RTH dalam Raperda RTH Kota Bandung harus lebih rinci, tidak hanya bicara soal ruangan dan tumbuh-tumbuhan yang tidak ada kaitannya dengan kestabilan fungsi ekologis Kota.

Sebagai contoh : Taman Mobil (bunga di atas pot/ bunga di pulau jalan), taman tersebut tidak bisa dikatakan RTH karena tidak memiliki fungsi ekologis, taman tersebut hanya memiliki fungsi estetis.

Untuk pemilihan pohon juga harus mempertimbangkan jenis dan karakter pohon yang pas untuk perkotaan, seperti pohon mahoni, pohon tersebut mampu memberikan suplai oksigen sebagai pengatur suhu udara hanya disaat musim hujan, dimusim kemarau pohon tersebut tidak bisa memberikan keteduhan sebagai pengatur suhu udara apalagi sebagai penyuplai oksigen yang sehat. Karena dimusim kemarau pohon mahoni malah melakukan metabolisme dengan cara menyerap oksigen dan membentuk karbon.

Itulah penyebab mengapa disaat kemarau ditaman yang dipenuhi pohon mahoni tidak terasa sejuk malah lebih terasa pengap. (Idehijau.com/iH3)

No comments yet.

Leave a Reply