Ada Utang Dibalik Citarum

Sejak manusia dilahirkan, sungai merupakan pusat kehidupan dan menjadi tempat membangun impian dan kebahagiaan dalam memciptakan peradaban. Sayangnya kondisi sungai ketika manusia menetap didalamnya kadang malah terdegradasi bahkan menjadi rusak.

Perkembangan zaman menuntut sungai untuk menyesuaikan diri dengan segenap keinginan manusia. Seringkali sungai dianggap anugrah Tuhan untuk kehidupan manusia semata. Sementara, kehidupan yang lainnya sebagai penopang daya dukung kehidupan sungai terabaikan. Mengubah sungai sesuai dengan keinginan manusia dianggap sebagai  suatu perbaikan dalam penyesuaiaan kehendak zaman.

Pembangunan dengan pendekatan manusia sentris terkadang menjadi mutlak demi terciptanya kesejahteraan. Sebuah kesejahteraan yang di desain di atas meja dengan pendekatan angka-angka. Kesejahteraan yang ingin dicapai, lebih menggambarkan berupa pencapaian dalam bentuk material yang tersaji dalam angka-angka.   Tanpa pemahaman arti kesejahteraan yang menyeluruh yang ditopang oleh keragaman hayati (hidup) sebagai pancaran keindahan hidup yang menyeluruh. Manusia menganggap kesejahteraan akan tercipta apabila adanya pemenuhan angka konsumsi yang harus dientaskan.

Kehidupan Yang Berkelanjutan

Kehidupan menyeluruh yang berkelanjutan merupakan hak semua komponen ekologis. Impian tentang kehidupan yang damai merupakan sebuah sisi lain dalam renungan akan  kesejahteraan. Dengan demikian apa yang menjadi tujuan kesejahteraan, selayaknya tanpa harus mengabaikan hak hidup komponen hidup (ekologi) yang lainnya.

Yasraf Amir Piliang mendepinisikan perilaku mengabaikan apalagi merusak ekosistem lingkungan hidup sama dengan “eco-terorism” , yakni suatu perbuatan yang diidikasikan sebagai teror untuk lingkungan hidup. Dan pencemaran terhadap sungai juga dapat dikategorikan sebagai upaya teror terhadap lingkungan.

Motif pengrusakan ekosistem lingkungan sekitar sungai dapat disandingkan dengan pengambilan hak-hak ekologi secara manifulatif untuk memeroleh sumber daya air untuk kepentingan diluar pungsi lingkungan. Sikap lebih mementingkan diri sendiri (egosentris) ini adalah wujud dari peneroran terhadap lingkungan.

Perilaku para peneror lingkungan juga tidak berpijak pada “sense of counsieusness” bahwa pemeliharaan sumber daya air di sekitar sungai adalah sebuah keniscayaan. Akibatnya, kondisi air dari tahun ke tahun menampakkan wujud yang mengkhawatirkan, seperti halnya pencemaran sungai citarum yang  berdampak sistemik bagi kehidupan ekosistem secara menyeluruh, termasuk kehidupan manusia, baik secara sosial, ekonomi maupun budaya. Warga yang masuk dalam lintasan sungai mengalami penurunan kualitas hidup.

Utang Dibalik Citarum

Banyak program yang telah dijalankan pemeintah untuk perbaikan sungai Citarum.  Tetapi  Citarum  tetap kotor dan menghawatirkan.  Program yang digagas pemerintah  hanya menguntungkan segelintir elite yang terlibat. Dalam kurun waktu 2010-2025 akan banyak uang yang mengalir, baik dari APBD, APBN  maupun  instansi terkait, besarannya mencapai angka yang sangat fantastis, yaitu sekitar 35 triliun, dan angka fantastis tersebut akan bermuara pada pembengkakan utang  luar negri. Karena program penanganan terpadu wilayah sungai citarum merupakan komitmen yang dibangun antara pemerintah dan ADB.

Revrisond Baswir, memberikan pandangan seputar utang luar negeri yang pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua mazhab. Mazhab pertama, yang melihat transaksi utang piutang sebagai masalah ekonomi semata. Dengan pandangan seperti itu, menurut mazhab yang dianut oleh para ekonom neoliberal ini, transaksi utang luar negeri sesungguhnya tidak berbeda dari transaksi utang-piutang biasa. Sebagaimana transaksi utang-piutang biasa, pemerintah wajib memenuhi setiap kewajiban yang timbul akibat pembuatan utang luar negeri tersebut.

Mazhab kedua melihat masalah utang luar negeri sebagai sebuah fenomena yang memiliki kaitan sangat erat dengan konstruksi sosial dan ideologis yang melatarbelakangi transaksi pembuatannya. Dilihat dari segi konstruksi sosial dan ideologinya, secara garis besar utang luar negeri dapat dikelompokkan menjadi utang halal dan utang haram.

Utang halal adalah utang yang dibuat oleh sebuah rezim demokratik untuk melaksanakan fungsinya dalam memajukan kesejahteraan umum.  Sedangkan utang haram (odious debt), sebagaimana dikemukakan oleh Alexander Nahum Sack, adalah utang luar negeri yang dibuat oleh sebuah rezim yang korup (despotik), untuk memenuhi kepentingan kekuasaannya.

Mengapa utang yang seharusnya sebagai cara melepaskan diri dari problem yang membelit ternyata justru berakibat buruk? Paradoks utang luar negeri muncul ketika peningkatan utang tidak diikuti kemampuan membayar kembali (repayment capacity).

Ketidakmampuan ini terjadi karena utang luar negeri telah mengalami distorsi, baik dilihat dari proses maupun angkanya. Dari sisi proses, utang luar negeri dilakukan bukan atas dasar pertimbangan ekonomi, melainkan nonekonomi dari para elite kekuasaan. Yang pada akhirnya beban utang luar negri menjadi milik rakyat.

Dengan alasan apapun hutang luar negri harus dihentikan. Apalagi mengatas namakan penanganan lingkungan hidup, dalam hal ini penanganan wilayah sungai citarum. Jangan jadikan sungai citarum sebagai hidangan program yang dibelah-belah atas kucuran utang luar negri. Kembalikan citarum pada alasan pertama, mengapa citarum ada? Atau citarum akan mengada dengan caranya sendiri. Wallahu’alam. (iH3)

About Adang Kusnadi

Sarjana Ekonomi Lululusan Universitas Islam Bandung. Memiliki minat pada masalah -masalah yang berkaitan dengan perbaikan tempat hidup manusia dengan visi personal ingin “mewujudkan alam yang manusiawi dan manusia yang alami.” Adang juga aktif mengajar di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan Cimahi.
Comments are closed.