Sepuluh Cara Mudah Bergaya Hidup Ramah Lingkungan

Gaya hidup merupakan salah satu faktor yang selalu menjadi perhatian masyarakat dewasa ini. Namun konsep gaya hidup yang memiliki nilai estetis dan prestisiuslah yang selalu menjadi trend, tanpa memperhatikan nilai-nilai budaya, agama, dan tentunya lingkungan. Kondisi ini tidak terelakan lagi, karena pengaruh budaya asing dan tuntutan hidup setiap orang yang berbeda-beda.

Hanya ada konsep gaya hidup yang perlu mendapatkan perhatian luas saat ini, yakni gaya hidup yang ramah lingkungan. Kenapa demikian? Mengingat begitu rusaknya kondisi alam dan lingkungan kita dewasa ini, tentunya menjadi tugas dan kewajiban kita untuk menjaganya. Agar kita bisa mewarisi lingkungan yang baik dan sehat kepada anak cucu kita nanti. Marilah mulai membiasakan diri dengan gaya hidup ramah lingkungan dari hal-hal mudah yang biasa kita lakukan sehari-hari. Disebutkan dalam www.enn.com, seperti diadaptasi penulis dari www.antaranews.com/view/?i=1200570599&c=WBM&s, terdapat 10 cara mudah hidup ramah lingkungan.

  1. Membiasakan diri menghemat listrik, dengan cara mengganti lampu pijar dengan lampu FLB (“fluorescent light bulbs”) atau CFLs (“compact fluorescent bulbs”). Memang, harga bohlam pijar lebih murah daripada lampu CFLs, tapi bila semua lampu di rumah menggunakan lampu yang hemat energi ini maka tagihan listrik bisa ditekan hingga 30 persen dari kondisi semula. Menurut hasil penelitian Badan Perlindungan Lingkungan Hidup Amerika Serikat (EPA), lampu jenis CFLs menyerap listrik 75 persen dari lampu pijar biasa dan usianya bisa 10 kali lebih panjang daripada bohlam pijar. Copot kabel peralatan listrik jika sudah tidak lagi digunakan. Boleh saja komputer sudah dimatikan lewat satu klik di tombol “sign-off”, tapi selama masih ada lampu yang menyala di piranti itu, maka pertanda listrik masih menjalar di alat elektronik tersebut. Jadi … matikan, dan cabut kabelnya. Entah itu komputer, radio, televisi, atau mesin pencetak yang sudah tidak digunakan lagi, agar listrik benar-benar tidak mengalir lagi.
  2. Menggunakan kendaraan yang sehat dan ramah lingkungan, dengan cara menjaga kondisi kendaraan dalam performa yang terbaik. Gantilah oli secara rutin dan pertahanan ban yang performanya bagus, sehingga hemat bahan bakar. Taatilah semua peraturan berlalu lintas, ingat bahwa bahan bakar yang digunakan akan lebih hemat bila laju kendaraan tidak terlalu kencang melaju, patuhi ketentuan batas maksimal kecepatan. Memang akan lebih baik lagi kalau semua orang menggunakan moda transportasi sepeda atau transportasi umum, tapi bagi mereka yang sangat terpaksa harus menggunakan kendaraan pribadi harus memastikan kondisi kendaraannya adalah yang terbaik. Dalam greenpressnetwork.blogspot.com/…/b2w-gayahidupramahlingkungan.html , disebutkan, seringkali ada pernyataan bahwa mengendara sepeda dalam lalulintas padat sangatlah tidak sehat, dibandingkan dengan mengendara mobil. Namun setelah dilakukan pengujian hipotesa tersebut, ternyata tim dengan 2 pengendara sepeda dan 2 pengendara mobil telah dilengkapi dengan peralatan uji udara untuk perorangan  sambil berkendara dalam waktu 4 jam pada 2 pagi hari yang berbeda di Kopenhagen Denmark. Sampel udara dalam tabung arang yang mereka bawa kemudian dianalisa untuk mencari kadar benzene, toluene, ethylbenzene dan xylene (BTEX) dan meneliti saringan udara untuk menentukan total partikel debu. Konsentrasi partikel dan BTEX yang terdapat di dalam ruang mobil-mobil percobaan tersebut adalah 2 hingga 4 kali lebih banyak daripada zona pernafasan pada pengendara sepeda, yang terbesar perbedaannya adalah untuk BTEX.
  3. Meminimalisir penggunaan detergen saat mandi dan mencuci, dengan cara memaksimalkan jumlah baju yang akan dicuci di mesin cuci. Bila mesin bekerja dengan beban cucian yang tidak maksimal, tentu akan memakan energi yang lebih besar, jadi pastikanlah semua baju dicuci pada waktu bersamaan agar beban maksimal mesin tercapai dan energi yang dibutuhkan lebih kecil. Bila mencuci baju, gunakan saja air biasa, tidak perlu air yang panas karena air panas untuk mencuci baju tentu membutuhkan energi yang lebih banyak daripada air biasa. Toh hasil mencuci dengan air yang panas dan air yang dingin akan sama saja bagi sebagian besar jenis pakaian.
  4. Meminimalisir penggunaan kantong plastik, dengan mempersiapkan diri saat makan di restoran atau berbelanja di pusat perbelanjaan. Kalau berencana makan di restoran yang menyajikan porsi super besar, maka bawalah serta tempat bekal Tupperware untuk membawa sisa makanan yang tidak habis disantap agar makanan tidak mubazir. Lalu jika ingin berbelanja, jangan lupa bawa tas atau keranjang untuk menenteng barang belanjaan, kurangi penggunaan plastik agar tidak menambah sampah dan membuang energi untuk proses daur ulang plastik.
  5. Membiasakan diri membawa botol minuman dari rumah. Gaya hidup “hijau” akan lebih memilih langkah lain daripada membeli air di botol kemasan; saring air hingga layak minum, lalu minum air itu dari botol yang bisa digunakan berulang-ulang jika hendak bepergian. Sebagai contoh soal penggunaan botol minuman, memang air di dalam botol kemasan lebih ringkas dan gampang dibawa tapi dampak menggunakan botol macam ini ternyata tidaklah sesederhana itu. Proses pembuatan botol kemasan air minum menggunakan plastik berbahan baku bensin, belum lagi tahap pengirimannya ke pasar yang sangat boros akan energi.
  6. Menggunakan produk lokal. Terkait dengan pola konsumsi kita adalah dengan program penggalakan konsumsi produk-produk lokal. Mesti diingat bahwa produk makanan yang diimpor atau didatangkan dari daerah serta negara lain akan berkonsekuensi pada rute pengiriman. Makin jauh sumber makanan itu datang, maka pesawat, kapal, truk yang dilibatkan untuk mengirimnya pun pasti sangatlah masif. Dengan mengkonsumsi produk pangan lokal, tentunya petani setempat akan terangkat pendapatannya dan jejak karbon akibat transportasi pangan impor akan banyak berkurang.
  7. Menanam pohon di rumah sendiri. Sederhana kedengarannya, tapi cara ini sangat efektif dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca, karena ia bisa menyerap gas karbon sepanjang usianya. Selain itu pohon pun bisa berfungsi sebagai pendingin rumah yang alami pada hari yang terik, sehingga tidak perlu lagi memasang mesin pendingin ruangan di rumah-rumah atau di kantor-kantor.
  8. Menggunakan sumber energi ramah lingkungan. Bahan bakar yang sumbernya energi terbarukan, seperti angin dan sinar matahari. Kalau bisa memilih, pilihlah energi dari sumber-sumber terbarukan, dengan cara ini konsumen pun turut memilihkan “pola hidup hijau” buat korporat-korporat besar agar mereka berpihak pada jenis usaha ini.
  9. Mengkonsumsi kemasan makanan minimalis. Pola konsumsi makanan juga harus dilibatkan dalam gaya hidup ramah lingkungan. Pilihlah makanan yang kemasannya minimalis, karena akan lebih baik memakan sesuatu dari bungkus yang tidak terlalu banyak menghasilkan sampah.
  10. Mengurangi pembelian barang-barang baru. Pola konsumsi juga harus dilibatkan untuk meminimalisir pembelian barang-barang baru. Singkat kata, kalau bisa menggunakan barang bekas maka kurangilah keinginan untuk membeli barang-barang baru.***

About Arief Rustandi

Sarjana Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Memiliki minat pada dunia jurnalistik, lingkungan hidup, pendidikan serta olahraga. Arief juga aktif sebagai Associate Researcher di ECOTAS GROUP Indonesia.
Comments are closed.