Kerusakan Lingkungan Akibat Pertambangan di Samarinda Mengkhawatirkan

Hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti lingkungan dari Universitas Mulawarman 2010 seperti dikutip tribunkaltim.co.id, menunjukkan bahwa di Kota Samarinda setidaknya terdapat 19 daerah rawan banjir.

Tim peneliti juga menemukan sejumlah ruas jalan lingkungan dan perkotaan yang rusak parah akibat diterjang banjir. Dan dilintasi truk-truk bertonase tinggi terutama truk pengangkut batu bara yang lalu-lalang melintas di jalan umum pada malam maupun siang hari.

Dari sejumlah temuan tersebut, setelah diteliti, maka diambil kesimpulan bahwa salah satu  penyebab banjir dan kerusakan jalan  adalah akibat aktivitas tambang yang saat ini mengepung kota Samarinda.

Di akhir penelitian, tim peneliti merekomendasikan kepada Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim untuk mengevaluasi seluruh izin Kuasa Pertambangan (KP) dan mengatur regulasi aktivitas tambang seketat mungkin, termasuk penggunaan jalan umum oleh truk-truk pengangkut batu bara.


Tambang di Kaltim Sudah Seluas Swiss

Kaltimpost, Kamis, 19 Mei 2011 juga memberitakan beberapa aktivis Jatam melakukan demo di gedung Kementerian ESDM. Di Samarinda, tercatat 839 hektare luasan lubang dan bongkaran tanah ditelantarkan perusahaan tambang. Data Jatam menyebutkan, terdapat 33 izin usaha pertambangan dari Kementerian ESDM serta 1.269 izin daerah tambang batu bara yang mencongkel perut Kaltim.

Sejauh ini, sekitar 4,4 juta hektare lahan dikapling izin tambang batu bara, setara luas wilayah Swiss. Sebanyak ribu lahan pertanian menyusut setiap tahunmya akibat ekspansi tambang, sawit, dan HPH.

Aktivis Jatam juga menyajikan data kondisi ibu kota Kaltim, Samarinda. Sebanyak 10.204 KK di beberapa kecamatan menjadi korban banjir. Tiap tahun, kawasan banjir meluas. Tahun lalu 29 titik, kini menjadi 35 titik. Penyebab utamanya, perubahan bentang alam Samarinda akibat operasi pertambangan batu bara. Bahkan, sekitar 71 persen luas kota dikapling tambang.

Masih dari rilis Jatam, produksi batu bara Kaltim pada 2010 adalah 183 juta ton. Sekitar 80 persennya diekspor dan hanya lima persen yang digunakan untuk keperluan Kalimantan. Di beberapa tempat di sekitar kawasan pengerukan, listrik hanya menyala 12 jam sehari.

Sumber:

“Di Samarinda Ada 19 Titik Banjir Dan Jalan Rusak Akibat Tambang.” Web. 17 May 2012. http://kaltim.tribunnews.com/2011/06/05/di-damarinda-ada-19-titik-banjir-dan-jalan-rusak-akibat-tambang.

“Tambang Di Kaltim Sudah Seluas Swiss.” Kaltim Post Online. Web. 17 May 2012. http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail.

2 Responses to Kerusakan Lingkungan Akibat Pertambangan di Samarinda Mengkhawatirkan

  1. Berkah Mulia Group July 6, 2015 at 11:00 am #

    postingan keren,,, http://www.sepatusafetyonline.com

  2. brain aldilas August 2, 2016 at 3:26 pm #

    Semoga bisa segera diatasi….

Leave a Reply