Pentingnya Adaptasi Perubahan Iklim di Bidang Pertanian

Ilustrasi Adaptasi (Idehijau.com)

Ilustrasi Adaptasi (Idehijau.com)

Besarnya pengaruh perubahan iklim terhadap kehidupan manusia menuntut adanya peningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim atau beradaptasi. Penyesuaian diri tersebut termasuk juga terhadap keragaman iklim dan kejadian iklim ekstrim, sehingga potensi kerusakan akibat perubahan iklim dapat berkurang. Bukan hanya itu, dengan beradaptasi maka peluang yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dapat dimanfaatkan, dan konsekuensi yang timbul akibat perubahan iklim dapat diatasi.

Perubahan iklim berdampak terhadap berbagai bidang kehidupan manusia, utamanya sektor kerentanan pesisir, sektor pertanian, dan sektor sumberdaya air. Ketiganya merupakan sektor yang perlu mendapat prioritas dari para pemangku kepentingan dan pemangku kebijakan terkait karena kerentanannya.

Sektor pertanian sangat rentan terhadap perubahan iklim karena berkaitan dengan ketahanan pangan nasional. Dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan nasional dapat dijelaskan secara runtut, mulai dari pengaruh negatif perubahan iklim terhadap sumberdaya lahan dan air, infrastruktur pertanian (irigasi) hingga sistem produksi melalui faktor produktivitas, luas tanam dan panen. Selain itu, keterbatasan lahan pertanian juga berpengaruh terhadap kemampuan petani untuk beradaptasi pada perubahan iklim.

Pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, paling rentan terhadap perubahan pola curah hujan, karena tanaman pangan umumnya merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif terhadap kelebihan dan kekurangan air. Secara teknis, menurut para ahli, kerentanan tanaman pangan sangat berhubungan dengan sistem penggunaan lahan dan sifat tanah, pola tanam, teknologi pengelolaan tanah, air, tanaman, dan varietas.

Oleh sebab itu, kerentanan tanaman pangan terhadap pola curah hujan akan berimbas pada luas areal tanam dan panen, produktivitas, dan kualitas hasil. Kejadian iklim ekstrim, terutama El-Nino atau La-Nina, antara lain menyebabkan kegagalan panen, serta penurunan indeks penanaman yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi tanaman. Selain itu, para ahli juga menyatakan bahwa kejadian iklim ekstrim menyebabkan kerusakan sumberdaya lahan pertanian, peningkatan frekuensi, luas, dan bobot atau intensitas kekeringan, peningkatan kelembaban, dan peningkatan intensitas gangguan organisme pengganggu tanaman.

Usaha adaptasi dilakukan Kementerian Pertanian misalnya dengan mengkaji ulang pemuliaan tanaman, menyesuaikan dengan upaya untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui perakitan varietas toleran rendaman, kekeringan, suhu tinggi, dan salinitas.

Secara umum, Kementerian pertanian juga telah menerbitkan pedoman umum adaptasi perubahan iklim sektor pertanian yang diharapkan menjadi acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun program dan petunjuk operasional terkait upaya adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian.

No comments yet.

Leave a Reply