Menanti Kebijakan Insentif Pemanfaatan Energi Angin

Sebuah Turbin Angin di Jepang

Sebuah Turbin Angin di Jepang

Angin atau bayu adalah sumber energi terbarukan yang tersedia cukup berlimpah di alam. Di Indonesia sendiri, potensi energi angin boleh dibilang cukup besar, mencapai 9,4 Gigawatt per Hour (Gwh).

Dilihat dari sejarahnya, konon pemanfaatan energi angin ini telah dimulai sejak tahun 5000 SM. Pada saat itu angin digunakan untuk menggerakkan baling-baling perahu di Sungai Nil, Mesir. Tercatat pula pada sekitar tahun 200 SM, bangsa Cina telah memanfaatkan energi angin untuk pompa air, sementara orang-orang di Timur Tengah telah memanfaatkannya untuk menggiling biji-bijian.

Sekarang, energi angin telah banyak dimanfaatkan di berbagai negara untuk mendukung kehidupan manusia seperti untuk pengolahan makanan, pompa air, dan pembangkitan tenaga listrik. Menurut Global Wind Energy Council (GWEC), pada Desember 2012, China merupakan negara yang memanfaatkan energi angin terbesar di dunia dengan 75.324 Mega Watt atau 26,7 % dari total dunia. Berikutnya adalah Amerika Serikat, Jerman, Spanyol dan India. Kemudian diikuti Inggris, Italia, Perancis, Kanada dan Portugal. Sementara 14 % sisanya tersebar di negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia.

10 Besar Negara yang Memanfaatkan Energi Angin di Dunia (Sumber: GWEC).

10 Besar Negara yang Memanfaatkan Energi Angin di Dunia (Sumber: GWEC).

 

Di Indonesia sendiri, saat ini pemanfaatan energi angin baru mencapai kurang lebih 1 – 2 MW daya terpasang dan direncanakan akan mencapai 250 MW pada tahun 2025.

Mengapa Indonesia begitu tertinggal dalam pemanfaatan energi angin ? Padahal sudah diyakini kalau Pembangkit Listrik Tenaga Angin (PLT Angin/Bayu) merupakan pembangkit listrik yang sangat ramah lingkungan. Dimana penerapannya bisa dalam bentuk wind farm ataupun stand alone, baik yang terhubung ke dalam grid maupun tidak.

Menurut Kepala BPPT, Marzan A Iskandar “Kendalanya selain harga teknologi turbin angin yang masih relatif tinggi dan belum adanya dukungan pendanaan baik dari dalam maupun luar negeri, karakteristik angin yang fluktuatif dan site specific juga menjadi kendala tersendiri.”

Selain itu juga terdapat kendala kebijakan dari pemerintah. Perusahaan-perusahaan di bidang energi sangat mengharapkan agar pemerintah segera menetapkan tarif dasar penjualan (Feed in Tariff) energi angin.

“Agar para perusahaan mau berinvestasi, pemerintah harus menetapkan harga dari energi angin. Jika tidak ada harga, bagaimana perusahaan mau menjualnya?” ujar Poempida Hidayahtullah, CEO PT Viron Energy, di Jakarta, 14 Mei 2013 seperti dikutip VivaNews.

Sebenarnya bukan belum ada aturan mengenai Feed in Tariff Energi Angin. Di dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 04 tahun 2012 , tentang Harga Pembelian Listrik oleh PLN dari PLT yang menggunakan energi terbarukan skala kecil dan menengah atau kelebihan daya sudah diatur mengenai hal tersebut. Untuk PLT dengan kapasitas terpasang sampai 10 MW ditetapkan harga listriknya Rp 656 /kWh x F , jika terkoneksi pada Tegangan Menengah (TM) dan Rp. 1004 / kWh x F , jika terkoneksi pada Tegangan Rendah (TR). Dengan nilai F =1 untuk wilayah : Jawa dan Bali ; F=1.2 , untuk wilayah : Sumatera dan Sulawesi : F=1,3 untuk wilayah : Kalimantan , NTB dan NTT dan F= 1,5 untuk wilayah Maluku dan Papua. Namun tampaknya harga tersebut masih belum layak alias terlalu murah bagi perusahaan energi untuk mau berinvestasi.

No comments yet.

Leave a Reply