Mengenal Fasilitas Stasiun Peralihan Antara Persampahan

Stasiun Peralihan Antara (SPA) persampahan adalah sarana pemindahan sampah dari alat angkut kecil ke alat angkut lebih besar dan diperlukan untuk kabupaten/kota yang memiliki lokasi TPA dengan jarak lebih dari 25 km yang dapat dilengkapi dengan fasilitas pengolahan sampah.

Stasiun Peralihan Antara (SPA) Sampah

Stasiun Peralihan Antara (SPA) Sampah di Jl. Sangkuriang, Kota Cimahi (Foto: Google Map).

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2013, stasiun peralihan antara (SPA) terdiri dari SPA skala kota dan SPA skala lingkungan hunian. SPA skala kota harus memenuhi persyaratan teknis seperti: a. luas SPA lebih besar dari 20.000 m2; b. produksi timbulan sampah lebih besar dari 500 ton/hari; c. penempatan lokasi SPA dapat di dalam kota; d. fasilitas SPA skala kota dilengkapi dengan ramp, sarana pemadatan, sarana alat angkut khusus, dan penampungan lindi; e. pengolahan lindi dapat dilakukan di SPA atau TPA; dan f. lokasi penempatan SPA ke permukiman terdekat paling sedikit 1 km.

Sedangkan SPA skala lingkungan hunian harus memenuhi persyaratan teknis seperti: a. luas SPA paling sedikit 600 m2; b. produksi timbulan sampah 20 – 30 ton/hari; c. lokasi penempatan di titik pusat area lingkungan hunian; d. fasilitas SPA skala kota dilengkapi dengan ramp dan sarana pemadatan dan penampungan lindi; dan e. pengolahan lindi dapat dilakukan di SPA atau TPA.

SPA Sangkuriang Kota Cimahi

Salah satu Stasiun Peralihan Antara (SPA) Sampah yang sudah ada yaitu SPA di Jl. Sangkuriang milik Pemkot Cimahi. SPA tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP). Seperti diinformasikan Humas Pemkot Cimahi, serah terima pengelolaan SPA tersebut dilaksanakan, di Jln. Sangkuriang Kel. Cipageran Kec. Cimahi Utara Kota Cimahi pada bulan Februari 2012. Total dari nilai bantuan sebesar Rp 2,2 miliar, untuk mesin compactor saja menghabiskan dana Rp 1,8 miliar. Sedangkan Pemkot Cimahi hanya bertanggungjawab menyediakan lahan.

Mengurangi Volume Sampah dan Biaya TPA

Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Cimahi, bangunan SPA dilengkapi alat pemadat sampah (compactor) yang dapat mereduksi volume sampah hingga 1/3 dari ukuran semua. Jadi, jika sebelumnya sampah yang dikirim ke TPA sebanyak 6 ton, maka setelah dirposes di SPA menjadi tinggal 2 ton. Sehingga dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti sekaligus menekan biaya kompensasi jasa, karena sampah yang dibuang ke TPA dalam kondisi sudah di-press dan sudah tidak ada kandungan air yang menyebabkan sampah tersebut menjadi lebih berat.

Menurut Sekertaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Cimahi Dadang Kartiwa, keberadaan SPA di Kota Cimahi menjadi krusial untuk menekan volume sampah. “Efisiensinya bisa sampai 60 % volume sampah. Sampah yang sudah dipress tidak lagi memenuhi angkutan sehingga satu kali angkut volume sampah bisa bertambah,” katanya.

Kapasitas satu kali pemadatan mencapai 10 m3 sampah dengan hasil akhir menjadi ukuran 3 m3. Dengan demikian, sampah yang terangkut ke TPA dapat lebih banyak karena sampah hasil pemadatan dapat ditumpuk. Volume sampah di Kota Cimahi mencapai 680 ton/hari yang diakut oleh 19 unit kendaraan armroll. Hal ini akan menghemat operasional pengangkutan dari segi BBM dan ritasinya.

Dengan menekan volume sampah yang dibuang ke TPA, kompensasi jasa pembuangan sampah dari Kota Cimahi berkurang. Saat ini nilai kompensasi jasa yang harus dibayarkan sebesar Rp 35.000/ton.

Jumlah TPS se-Cimahi sebanyak 36 unit. Namun, SPA hanya akan melayani pemadatan sampah untuk kawasan Cimahi Utara berkaitan dengan lokasi. Jika semua TPS berubah menjadi SPA Sampah, diperkirakan volume sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti akan berkurang. Dan secara otomatis juga akan mempengaruhi biaya jasa pembuangan sampah.

(Dari berbagi sumber).

No comments yet.

Leave a Reply