Coronavirus seperti disebutkan WHO (2020) adalah suatu kelompok virus yang bisa mengakibatkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui mengakibatkan infeksi saluran pernafasan pada manusia.

Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19 yang menurut WHO (2020) merupakan penyakit menular yang tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang telah menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.

[tds_partial_locker tds_locker_id=”8758″]

Lebih dari lima bulan COVID-19 mewabah, Pemerintah Indonesia (03 Juni 2020) melaporkan sebanyak 28.233 orang dinyatakan positif, 8.406 orang sembuh dan 1.698 meninggal di Indonesia. Pada saat yang sama, virus ini dilaporkan terkonfirmasi pada 6.287.771 orang di 216 Negara di dunia di mana 379.941 orang meninggal dunia (WHO, 2020).

Mempraktikkan kebersihan tangan dan pernapasan setiap saat kemudian menjadi penting, dan merupakan cara terbaik untuk melindungi orang lain dan diri sendiri. Dengan demikian akses terhadap air dan udara bersih bertalian dengan penanggulangan terhadap wabah COVID-19.

Udara Bersih

COVID-19 berkaitan dengan udara bersih. Menurut studi terbaru dari Universitas Harvard (2020), orang dengan COVID-19 yang tinggal di wilayah Amerika Serikat dengan tingkat polusi udara yang tinggi lebih mungkin meninggal karena penyakit tersebut daripada orang yang tinggal di daerah yang kurang tercemar.

Studi tersebut, yang belum ditinjau oleh rekan sejawat, merupakan studi pertama yang melihat hubungan antara paparan jangka panjang terhadap polusi udara partikel halus (PM 2,5) dan risiko kematian akibat COVID-19 di Amerika Serikat.

PM 2,5 dihasilkan sebagian besar dari pembakaran bahan bakar dari mobil, kilang, dan pembangkit listrik. Masyarakat dengan kondisi udara yang buruk tentunya harus menanggung beban yang tidak proporsional dibandingkan masyarakat dengan akses terhadap udara bersih. Dan hal ini bertentangan dengan keadilan lingkungan dimana setiap orang memiliki hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang ditetapkan pemerintah mungkin membuat kualitas udara kota menjadi lebih baik. Menurut Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) sejak 28 tahun terakhir, kualitas udara kota Jakarta berkategori baik dengan nilai PM 2,5 rata-rata sebesar 18,46 µg/Nm3.

Pelaksanaan physical distancing yang berlanjut secara disiplin dan konsisten untuk memutus potensi penularan COVID-19 dimungkinkan untuk juga meningkatkan kualitas udara kota. Hal ini dapat terjadi di kota-kota yang selama ini kualitas udaranya dipengaruhi oleh padatnya transportasi kendaraan bermotor dan industrialiasi.

Physical distancing yang berkaitan dengan penurunan pencemaran udara tentunya membantu meringankan risiko bagi penderita terinfeksi COVID-19. Dengan dilakukannya work from home (WFH), maka asumsinya sumber pencemar dari transportasi menjadi berkurang. Namun hal tersebut tidak ada artinya apabila pencemaran udara dari sumber lain seperti industri, pembangkit listrik dan pembakaran sampah tidak berkurang.

Perbaikan kualitas udara perlu kebijakan jangka panjang dan perubahan kebiasaan masyarakat. Dengan demikian physical distancing dapat menjadi momentum bagi upaya untuk menata ulang tata kelola pembangunan rendah emisi. Penerapan hukum udara bersih termasuk di dalamnya.

Air Bersih

Pandemi COVID-19 membuat masyarakat disarankan lebih sering berada di rumah. Hal tersebut tentunya seiring dengan kebutuhan air bersih rumah tangga. Perilaku masyarakat yang berubah berkaitan dengan himbauan untuk lebih sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir dan menjaga kebersihan diri dan rumah.

Jelas bahwa masyarakat yang kekurangan akses terhadap air bersih akan merasakan dampak paling parah. Di sini, kesehatan masyarakat bergantung pada ketersediaan sumber air bersih.

Menurut Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, akses masyarakat terhadap air bersih hingga 2019 diperkirakan baru 77 persen. Artinya, 23 persen masyarakat belum mengecap air bersih. Angka tersebut meleset dari rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2014-2019, yang menargetkan aksesibilitas masyarakat terhadap air bersih pada 2019 mencapai 100 persen.

Sementara itu menurut data Badan Pusat Statistik (2020), persentase Rumah Tangga dengan sumber air minum yang layak pada tahun 2019 di seluruh Indonesia baru mencapai 89.27 %. Kriteria air minum layak adalah air minum dengan jarak ke tempat pembuangan limbah minimal 10 meter yang bersumber dari leding, sumur bor atau pompa, sumur terlindung, mata air terlindung, termasuk juga air hujan namun tidak termasuk air kemasan, air dari penjual keliling, air yang dijual melalui tanki, air sumur dan mata air tidak terlindung.

Menurut World Resources Institute (2020), 3 miliar orang, atau 40 persen dari populasi dunia, tidak memiliki fasilitas cuci tangan di rumah mereka. Tidak hanya itu, akses air bersih bagi hampir satu miliar orang juga terbatas. Akses air mereka seringkali mati, meskipun mereka telah tersambung dengan pipa air bersih, sehingga sulit bagi mereka untuk memenuhi himbauan untuk mencuci tangan lebih sering.

Masyarakat yang tangguh perlu dibangun dengan mengatasi permasalahan kurangnya air bersih. Masyarakat yang tangguh ini diantaranya dibangun dengan kebersamaan. Pihak yang memiliki akses terhadap air bersih berlebih dapat menyediakan fasilitas air bersih untuk cuci tangan bagi masyarakat umum yang membutuhkan. Pemerintah daerah bahkan perusahaan swasta dapat memasang fasilitas air minum dan cuci tangan di area-area umum serta wilayah yang banyak dilalui orang.

Namun hal tersebut hanya solusi sementara. Untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap penyebaran wabah dan bencana lainnya, dibutuhkan pengelolaan air bersih yang lebih baik dan investasi pengelolaan air jangka panjang.

Penerapan konsep pembangunan yang rendah emisi dan berkeadilan lingkungan dengan akses universal masyarakat terhadap air bersih sejatinya merupakan bagian dari upaya dalam kenormalan baru. ***

Previous articleSains Sekitar Kita: Kunci eko wisata adalah pemberdayaan masyarakat
Next articleLumpur Lapindo Kini, Antara Logam Tanah Jarang dan Hak Korban

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here