Ekonomi Sirkular dan Perubahan Iklim

Jokowi berpidato di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Conference of the Parties (COP) 26 Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perubahan iklim di Glasgow, Skotlandia, Inggris Raya Selasa 2 November 2021. Dalam pidatonya, Ia menyatakan perubahan iklim adalah ancaman besar bagi kemakmuran dan pembangunan global. Solidaritas kemitraan kerja sama kolaborasi global merupakan kunci. Dengan potensi alam yang begitu besar, Indonesia terus berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim.

Seperti diketahui, perubahan iklim menjadi pertimbangan utama dalam penerapan konsep ekonomi sirkular (circular economy). Menurut Leading Specialist Sitra, Ernesto Hartikainen, ekonomi sirkuler sangat menjanjikan karena konsep ini menggabungkan ide eco desain, energi terbarukan, efisiensi energi dan material, dimana perubahan iklim menjadi pertimbangan utama penerapan konsep ini. Konsep ekonomi sirkuler menjadi konsep pemanfaatan yang terus menerus, termasuk di dalamnya pengolahan bahan baku untuk menghasilkan produk yang dapat terus diperbaiki dengan limbah produksi yang juga bisa dimanfaatkan.

Beberapa waktu sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan mendorong ekonomi sirkular bagi pencapaian Nationally Determined Contribution Indonesia (NDCI).

Dalam upaya Pemulihan Ekonomi Nasional, Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk tidak hanya untuk mengembalikan kondisi ekonomi sebagaimana sebelum krisis, namun juga ke kondisi yang jauh lebih baik (build back better). Salah satu upaya untuk memenuhi komitmen tersebut adalah dengan melakukan transformasi ekonomi ke arah yang lebih “hijau” atau sering disebut dengan ekonomi sirkular.

Ekonomi sirkular merupakan model industri baru yang berfokus pada reducing, reusing, dan recycling yang mengarah pada pengurangan konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah.

“Konsep ini  tentunya bukan hanya pengelolaan limbah tetapi juga selanjutnya menggunakan proses produksi dimana bahan baku dapat digunakan berulang-ulang sehingga tentu akan terjadi saving yang besar terutama untuk sumber daya alam,” jelas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada acara Economics Talk: “Emphasizing Circular Economy: Scalling Up Indonesia’s Economy within Planetary and Social Boundaries” yang diadakan oleh HIMIESPA FEB Universitas Gadjah Mada (UGM).

Transformasi menuju ekonomi sirkular menjadi penting bagi Indonesia karena akan membawa banyak dampak positif, baik bagi lingkungan serta pertumbuhan berbagai sektor pembangunan dimasa depan.

Selain dapat meningkatkan pertumbuhan PDB Indonesia, penerapan konsep ekonomi hijau/sirkular juga dapat berpotensi menghasilkan 4,4 juta tambahan lapangan pekerjaan, dimana tiga perempatnya memberdayakan perempuan dengan kesempatan yang lebih baik pada tahun 2030.

Ekonomi sirkular akan memberi kontribusi pada upaya pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. “Dimana kita berkomitmen untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca pada tahun 2030 sebesar 29% dan apabila ada kerjasama internasional, ini dapat ditingkatkan menjadi 41%,” jelas Menko Airlangga dalam siaran persnya.

Pengarusutamaan konsep pembangunan rendah karbon telah tercantum dalam RPJMN 2020-2024 dan peta jalan pencapaian NDC Indonesia 2030. Terdapat lima sektor yang menjadi prioritas utama dalam dua dokumen tersebut diantaranya adalah pembangunan energi berkelanjutan, pengelolaan limbah terpadu, pengembangan industri hijau, pemulihan lahan berkelanjutan, serta inventarisasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan kelautan.      

Implementasi dan Tantangan

Menurut Kementerian Perekonomian, dalam hal implementasi industri hijau, tercatat sejak tahun 2010 hingga 2019 terdapat 895 perusahaan yang telah meraih green industry awards. Sementara itu, 1.707 industri juga telah mendapatkan sertifikasi blue dan gold dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan (PROPER), yang berdampak pada pengurangan Gas Rumah Kaca kurang lebih sebesar 93,83 juta ton dan pengurangan polutan sebesar 50,59 juta ton.

Program strategis juga sudah dilakukan oleh Pemerintah diantaranya melalui pengembangan Biofuel B30. Lebih lanjut adalah terobosan pengolahan limbah menjadi bahan bakar alternatif, salah satunya melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).

“Tentunya terdapat beberapa tantangan utama dalam melakukan transformasi ekonomi. Salah satu tantangan terbesar adalah kapasitas kelembagaan serta akses finansial dan teknologi yang diperlukan untuk pengembangan teknologi hijau. Diestimasi, investasi modal tahunan yang dibutuhkan untuk Ekonomi Sirkular berkisar Rp308 triliun  atau USD 21,6 miliar,” tambahnya.

Previous articleLumpur Lapindo Kini, Antara Logam Tanah Jarang dan Hak Korban
Next articleMemacu Kendaraan Listrik Sebagai Opsi Transportasi Ramah Lingkungan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here